BAB X
KESAHIHAN DALIL
BUDAYA SELAMETAN 1-7 HARI, 40 HARI, 100 HARI, DAN HAUL BAGI ORANG YANG TELAH MENINGGAL
1. Pengertian Selamatan atau Haul
Kata ”haul” berasal dari bahasa Arab yang berarti telah lewat atau berarti tahun. Masyarakat Jawa menyebutnya ”khol utowo selametane wong mati” (haul
atau selamatan untuk mendo’akan orang yang sudah meninggal) yaitu:
suatu upacara ritual keagamaan untuk memperingati meninggalnya seorang
Ulama’ (tokoh agama, kyai) atau salah satu dari anggota keluarga.
Dalil mengenai haul adalah berdasarkan hadits yang menerangkan bahwa junjungan kita Sayyidina Muhammad Saw. setiap
tahun telah melakukan ziarah kubur pada syuhada’ uhud (para sahabat
yang gugur waktu peperangan uhud) yang kemudian diikuti oleh sahabat Abu
Bakar, Umar dan Utsman pada setiap tahun. Hadits tersebut diriwayatkan
oleh Imam al-Baihaqi dari al-Waqidi;
عَنِ
اْلوَاقِدِى قَالَ: كَانَ النَّبِـىُّ يَـزُوْرُ شُهَدَاءَ اُحُدٍ فِيْ
كُلِّ حَوْلٍ وَاِذَا بَلَغَ رَفَعَ صَوْتـَهُ فَيَقُوْلُ: سَلاَمٌ
عَلَيْكُمْ ِبـمَا صَبَرْتـُمْ فَـنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ . ثُمَّ اَبُوْ
بَكْرٍ يَـفْعَلُ مِثْلَ ذٰلِكَ ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ (رواه البيهقى)
Al-Waqidy berkata:
“Nabi Muhammad Saw. berziarah ke makam syuhada’ uhud pada setiap tahun,
apabila telah sampai di makam syuhada’ uhud beliau mengeraskan suaranya
seraya berdo’a: keselamatan bagimu wahai ahli uhud dengan kesabaran-kesabaran yang telah kalian perbuat, sungguh ahirat adalah tempat yang paling nikmat/sebaik-baik rumah peristirahatan. Kemudian Abu Bakar pun melakukannya pada setiap tahun begitu juga Umar dan Utsman. HR. Baihaqi. (Mukhtashar Ibnu Katsir, Juz 2 hal. 279)
Sedangkan selametan pada hari ke 1 sampai hari ke 7 setelah kematian adalah tradisi orang jawa kalau ada keluarga yang meninggal, tradisi atau budaya selametan tidaklah bertentangan dengan syara’, budaya tersebut berdasarkan pada hadits di bawah ini;
قَالَ
طاَوُسُ: إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِى قُبُوْرِهِمْ سَبْعاً
فَكَانُوْا يُسْتَحَبُّوْنَ أَنْ يُطْعِمُوْا عَنْهُمْ تِلْكَ اْلأَياَّمَ
إِلىَ أَنْ قَالَ عَنْ عُبَيْدِ ابْنِ عُمَيْرٍ قَالَ: رَجُلاَنِ مُؤْمِنٌ
وَمُناَفِقٌ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيُفْتَنُ أَربَعِيْنَ صَبَاحاً. (
الحوى إلى فتوى للسيوطي، جز الثاني ص 178)
Imam Thawus berkata: Seorang yang mati akan memperoleh
ujian dari Allah Swt. dalam kuburnya selama 7 hari. Untuk itu,
sebaiknya mereka (yang masih hidup) mengadakan sebuah jamuan makan
(sedekah) untuknya selama hari-hari tersebut. (Sampai kata-kata)
Dari sahabat Ubaid Ibn Umair, dia berkata: Seorang mukmin dan seorang
munafik sama-sama akan mengalami ujian dalam kubur. Bagi seorang mukmin
akan beroleh ujian selama 7 hari, sedang seorang munafik selama 40 hari
di waktu pagi. (Al-Haway Ilaa Fatawa Lii al-Suyuty, juz 2 hal 178)
2. Perbedaan Pendapat Para Ulama’ Tentang Hukum Selametan 1-7 Hari, 40 Hari, 100 Hari dan Haul bagi Orang yang Telah Meninggal
Mengenai hukum haul dan selametan, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama’, tetapi mayoritas ulama’ dari empat madzhab berpendapat bahwa pahala ibadah atau amal shaleh (seperti: selametan)
yang dilakukan oleh orang yang masih hidup bisa sampai kepada orang
yang sudah meninggal. Namun di sini akan kami paparkan seputar khilaf
para ulama’ mengenai hal ini baik yang memperbolehkan maupun yang tidak memperbolehkannya. Adapun berbagai pendapat ulama’ madzhab beserta dalil-dalilnya adalah seperti di bawah ini;
a. Pendapat yang memperbolehkan
1. Menurut Ibnu Taimiyah
Syaikhul
Islam Taqiyuddin Muhammad ibnu Ahmad ibn Abdul Halim (yang lebih
populer dengan julukan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dari madzhab
Hambali) dalam kitab Majmu’ al-Fatawa: juz 24 halaman 314-315,
menjelaskan sebagai berikut ini:
اَمَّا
الصَّدَقَةُ عَنِ الْمَيِّتِ فَـِانَّهُ يَنْـتَـفِعُ بِهَا بِاتِّـفَاقِ
الْمُسْلِمِيْنَ. وَقَدْ وَرَدَتْ بِذٰلِكَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله
ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَحَا دِيْثُ صَحِيْحَةٌ مِثْلُ قَوْلِ سَعْدٍ ( يَا
رَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِّيْ اُفْتـُلِتـَتْ نَفْسُهَا وَاَرَاهَا لَوْ
تَـكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَهَلْ يَنْـفَـعُهَا اَنْ
اَتَـصَدَّقَ عَنْهَا ؟ فَقَالَ: نَـعَمْ , وَكَذٰلِكَ يَـنْـفَـعُهُ
الْحَجُّ عَنْهُ وَاْلاُ ضْحِيَةُ عَنْهُ وَالْعِتْقُ عَنْهُ وَالدُّعَاءُ
وَاْلاِسْتِـْغفَارُ لَهُ بِلاَ نِزاَعٍ بَيْنَ اْلأَئِمَّةِ .
“Adapun
sedekah untuk mayit, maka ia bisa mengambil manfaat berdasarkan
kesepakatan umat Islam, semua itu terkandung dalam beberapa hadits
shahih dari Nabi Saw. seperti perkataan sahabat Sa’at “Ya Rasulallah sesungguhnya ibuku telah wafat,
dan aku berpendapat jika ibuku masih hidup pasti ia bersedekah, apakah
bermanfaat jika aku bersedekah sebagai gantinya?” maka Beliau menjawab
“Ya”, begitu juga bermanfaat bagi mayit: haji, qurban, memerdekakan budak, do’a dan istighfar kepadanya, yang ini tanpa perselisihan di antara para imam”.
Ibnu
Taimiyah juga menjelaskan perihal diperbolehkannya menyampaikan hadiah
pahala shalat, puasa dan bacaan al-Qur’an kepada mayit dalam kitab
Fatawa: juz 24 halaman 322 sebagai berikut ini:
فَاِذَا اُهْدِيَ لِمَيِّتٍ ثَوَابُ صِياَمٍ اَوْ صَلاَةٍ اَوْ قِرَئَةٍ جَازَ ذَلِكَ
Artinya:
“jika saja dihadiahkan kepada mayit pahala puasa, pahala shalat atau
pahala bacaan (al-Qur’an/kalimah thayyibah) maka hukumnya
diperbolehkan”.
2. Menurut Imam Nawawi
Al-Imam
Abu Zakariya Muhyiddin Ibn al-Syarof, dari madzhab Syafi’i yang
terkenal dengan panggilan Imam Nawawi di dalam kitab al-Majmu’ Syarah
al-Muhadzab, Juz 5 hal. 258 menegaskan;
يُسْـتَـحَبُّ
اَنْ يَـمْكُثَ عَلىَ اْلقَبْرِ بَعْدَ الدُّفْنِ سَاعَـةً يَدْعُوْ
لِلْمَيِّتِ وَيَسْتَغْفِرُلَهُ. نَـصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِىُّ وَاتَّفَقَ
عَلَيْهِ اْلاَصْحَابُ قَالوُا: يُسْـتَـحَبُّ اَنْ يَـقْرَأَ عِنْدَهُ
شَيْئٌ مِنَ اْلقُرْأَنِ وَاِنْ خَتَمُوْا اْلقُرْأَنَ كَانَ اَفْضَلُ .
(المجموع جز 5 ص 258)
“Disunnahkan
untuk diam sesaat di samping kubur setelah menguburkan mayit untuk
mendo’akan dan memohonkan ampunan kepadanya”, pendapat ini disetujui
oleh Imam Syafi’i dan pengikut-pengikutnya, dan bahkan pengikut Imam
Syafi’i mengatakan “sunnah dibacakan beberapa ayat al-Qur’an di samping
kubur si mayit, dan lebih utama jika sampai menghatamkan al-Qur’an”.
Selain paparannya di atas Imam Nawawi juga memberikan penjelasan yang lain seperti tertera di bawah ini;
وَيُـسْـتَحَبُّ
لِلزَّائِرِ اَنْ يُسَلِّمَ عَلىَ اْلمَقَابِرِ وَيَدْعُوْ لِمَنْ
يَزُوْرُهُ وَلِجَمِيْعِ اَهْلِ اْلمَقْبَرَةِ. وَاْلاَفْضَلُ اَنْ
يَكُوْنَ السَّلاَمُ وَالدُّعَاءُ بِمَا ثَبـَتَ مِنَ اْلحَدِيْثِ
وَيُسْـتَـحَبُّ اَنْ يَقْرَأَ مِنَ اْلقُرْأٰنِ مَا تَيَسَّرَ وَيَدْعُوْ
لَهُمْ عَقِبَهَا وَنَصَّ عَلَيْهِ الشَّاِفعِىُّ وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ
اْلاَصْحَابُ. (المجموع جز 5 ص 258)
“Dan
disunnahkan bagi peziarah kubur untuk memberikan salam atas (penghuni)
kubur dan mendo’akan kepada mayit yang diziarahi dan kepada semua
penghuni kubur, salam dan do’a itu akan lebih sempurna dan lebih utama
jika menggunakan apa yang sudah dituntunkan atau diajarkan dari Nabi
Muhammad Saw. dan disunnahkan pula membaca al-Qur’an semampunya dan
diakhiri dengan berdo’a untuknya, keterangan ini dinash oleh Imam
Syafi’i (dalam kitab al-Um) dan telah disepakati oleh
pengikut-pengikutnya”.
3. Menurut Imam Ibnu Qudamah
Al-‘Allamah
al-Imam Muwaffiquddin ibn Qudamah dari madzhab Hambali mengemukakan
pendapatnya dan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab karyanya
al-Mughny juz 2 hal. 566.
قَالَ:
وَلاَ بَأْسَ بِالْقِراَءَةِ عِنْدَ اْلقَبْرِ . وَقَدْ رُوِيَ عَنْ
اَحْمَدَ اَنَّـهُ قَالَ: اِذاَ دَخَلْتمُ الْمَقَابِرَ اِقْرَئُوْا
اَيـَةَ اْلكُـْرسِىِّ ثَلاَثَ مِرَارٍ وَقُلْ هُوَ الله ُاَحَدٌ ثُمَّ قُلْ اَللَّهُمَّ اِنَّ فَضْلَهُ ِلأَهْلِ الْمَقَابِرِ .
Artinya
“al-Imam Ibnu Qudamah berkata: tidak mengapa membaca (ayat-ayat
al-Qur’an atau kalimah tayyibah) di samping kubur, hal ini telah
diriwayatkan dari Imam Ahmad ibn Hambal bahwasanya beliau berkata: Jika hendak masuk kuburan
atau makam, bacalah Ayat Kursi dan Qul Huwa Allahu Akhad sebanyak tiga
kali kemudian iringilah dengan do’a: Ya Allah keutamaan bacaan tadi aku
peruntukkan bagi ahli kubur.
4. Menurut
golongan dari madzhab Syafi’i dalam kitab al-Adzkar al-Nawawi hal 150.
dijelaskan lebih spesifik lagi seperti di bawah ini:
وَذَهَبَ
اَحْمَدُ ْبنُ حَنْبَلٍ وَجَمَاعَةٌ مِنَ اْلعُلَمَاءِ وَجَمَاعَةٌ مِنْ
اَصْحَابِ الشَّاِفـِعى اِلىَ اَنـَّهُ يَـصِلُ . فَاْلاِ خْتِـيَارُ اَنْ
يَـقُوْلَ الْقَارِئُ بَعْدَ فِرَاغِهِ: اَللََّهُمَّ اَوْصِلْ ثَـوَابَ مَا قَـرأْ تـُهُ اِلَى فُلاَنٍ . وَالله ُاَعْلَمُ
Artinya: Imam Ahmad bin Hambal dan golongan ulama’ dan sebagian dari sahabat Syafi’i menyatakan bahwa pahala do’a adalah sampai kepada mayit. Dan menurut pendapat yang terpilih: “Hendaknya orang yang membaca al-Qur’an setelah selesai untuk mengiringi bacaannya dengan do’a:
اَللََّهُمَّ اَوْصِلْ ثَـوَابَ مَا قَـرأْ تـُهُ اِلَى فُلاَنٍ
Ya Allah, sampaikanlah pahala bacaan al-Qur’an yang telah aku baca kepada si fulan (mayit)”.
5. Menurut Fuqaha’ (Ulama’ ahli Fiqih) Ahlussunnah wal Jama’ah
Menurut jumhur fuqoha’ ahlussunnah wal jama’ah
seperti yang telah diterangkan oleh al-‘Allamah Muhammad al-‘Araby
mengutip dari hadits Rasulullah Saw. dari sahabat Abu Hurairah ra.
وَعَنْ
اَبِـى هُرَيْرَةَ رَضِىَ الله ُعَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى
الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ دَخَلَ الْمَقَابِرَ ثُمَّ قَرَأ
َفَاتِحَةَ اْلكِتَابِ وَقُلْ هُوَالله ُاَحَدٌ , وَاَلْهَاكُمُ
التَّكَاثُرْ , ثُمَّ قَالَ: اِنـِّى جَعَلْتُ ثَوَابَ مَا قَرَأْتُ مِنْ
كَلاَمِكَ ِلأَهْلِ اْلـَمقَابِرِ مِنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ
كَانُوْا شُفَعَاءَ لَهُ اِلَى اللهِ تَعَالىَ .
Artinya: Dari Abi Hurairah ra. berkata, Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa berziarah ke makam/kuburan kemudian membaca al-Fatikhah, Qul Huwa Allahu Akhad, dan
Al-Hakumuttakatsur, kemudian berdo’a “sesungguhnya aku hadiahkan pahala
apa yang telah kubaca dari firmanmu kepada ahli kubur orang mukmin
laki-laki dan mukmin perempuan, maka pahala tersebut bisa mensyafaati si
mayit di sisi Allah Swt”.
b. Pendapat yang tidak memperbolehkan
1. Menurut golongan Madzhab Syafi’i
Pendapat
masyhur dari golongan madzhab Syafi’i bahwa pahala membaca al-Qur’an
tidak bisa sampai pada mayit, hal ini diterangkan dalam kitab al-Adzkar
al-Nawawi, hal 150.
وَاخْتَلَفَ
اْلعُلَمَاءُ فِيْ وُصُوْلِ ثَوَابِ قِراَءَةِ اْلقُرْأَنِ
فَالْمَشْهُوْرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِى وَجَمَاعَةٍ اَنَّهُ لاَيَصِلُ ,وَالله ُاَعْلَمُ.
Artinya:
“Ulama’ berbeda pendapat dalam masalah sampainya pahala bacaan
al-Qur’an kepada mayit, maka menurut pendapat yang masyhur dari madzhab
syafi’i dan golongan ulama’ menyatakan tidak bisa sampai kepada mayit, dan Allah lah yang lebih mengetahui.
2. Menurut Imam Malik
Menurut
pendapat sebagian ulama’ pengikut madzhab Maliki dan Syafi’i bahwasanya
pahala puasa, shalat sunnah dan bacaan al-Qur’an adalah tidak bisa
sampai kepada mayit. Keterangan kitab Majmu’ al-Fatawa, Juz 24 hal. 314-315, yang berbunyi:
وَاَمَّاالصِّـيَامُ
عَنْهُ وَصَلاَةُ التَّطَوُعِ عَنْهُ وَقِرَاءَةُ اْلقُرْأَنِ عَنْهُ
فَهٰذَا قَوْلاَنِ لِلْعُلَمَاءِ: اَحَدُهُمَا: يَـنْـتَـفِعُ بِهِ وَهُوَ
مَذْهَبُ اَحْمَدَ وَأَبِىْ حَنِيْفَةَ وَغَيْرِهِمَا وَبَعْضُ اَصْحَابِ
الشَّافِعِى وَغَيْرِهِمْ وَالثَّانِىْ: لاَتَصِلُ اِلَيْـهِ وَهُوَ اَلْمَشْهُوْرُ مِنْ مَذْهَبِ مَالِكٍ وَالشَّافِعِى.
Artinya:
Adapun puasa, shalat sunnah, dan membaca al-Qur’an untuk mayit ada dua
pendapat salah satunya; Mayit bisa mengambil manfaat dengannya, pendapat
ini menurut Imam Ahmad, Abu Hanifah dan sebagian sahabat Syafi’i yang
lain, dan yang kedua; tidak sampai kepada mayit, ini menurut pendapat
yang masyhur dalam madzhab Imam Malik dan Imam Syafi’i.
3. Rangkaian Acara Selametan atau Haul
Dalam acara selamatan atau haul biasanya dirangkai dengan beberapa rangkaian acara sebagai berikut:
1. Khotmul
Qur’an, yaitu membaca al-Qur’an 30 juz (mulai dari juz 1 s/d juz 30).
Menurut Imam Nawawi di dalam kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, Juz 5
hal. 258 menegaskan bahwa disunnahkan untuk membacakan al-Qur’an untuk
si mayit;
يُـسْـتَـحَبُّ
اَنْ يَـمْكُثَ عَلىَ اْلقَبْرِ بَعْدَ الدَّفْنِ سَاعَـةً يَدْعُوْ
لِلْمَيِّتِ وَيَسْـتَـغْفِرُ لَهُ. نَـصَّ عَلَيْهِ اَلشَّافِعِىُّ
وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ اَلاَصْحَابُ قَالوُا: يُـسْـتَـحَبُّ اَنْ يَـقْرَأَ
عِنْدَهُ شَيْئٌ مِنَ اْلقُرْأَنِ وَاِنْ خَتَمُوْا َاْلقُرْأَنَ كَانَ
اَفْضَلُ . المجموع: جز 5 ص 258.
Artinya;
“Disunnahkan untuk diam sesaat di samping kubur setelah menguburkan
mayit untuk mendo’akan dan memohonkan ampunan kepadanya”. Pendapat ini
disetujui oleh Imam Syafi’i dan pengikut-pengikutnya, dan bahkan
pengikut Imam Syafi’i mengatakan: “Sunnah dibacakan beberapa ayat al-Qur’an di samping kubur si mayit, dan lebih utama jika sampai menghatamkan al-Qur’an”.
2. Tahlilan, Ibnu Taimiyah menegaskan masalah tahlil dengan keterangannya sebagai berikut:
إِذَا
هَلَّلَ اْلاِنْسَانُ هٰكَذَا: سَبْعُوْنَ اَلْفًا اَوْاَقَلَّ اَوْ
اَكْثَرَ وَاُهْدِيَتْ اِلَيْهِ نَـفَـعَـهُ اللهُ بِذٰلِكَ.
Artinya;
“Jika seseorang membaca tahlil sebanyak 70.000 kali, kurang atau lebih
dan (pahalanya) dihadiahkan kepada mayit, maka Allah memberikan manfaat
dengan semua itu”. (Fatawa, 24/323)
3. Do’a
yang dihadiahkan kepada si mayit, Syeh Sayyid Sabiq menjelaskan bahwa
ulama’ telah sepakat mengenai sampainya do’a dan istighfar (memohonkan
ampunan) untuk mayit sebagaimana dalil di bawah ini:
اَلدُّعَاءُ
وَاْلاِسْتِـغْـفَارُ وَهٰذَا مُجْمَعٌ عَلَيْهِ لِقَوْلِ اللهِ تَعَالىَ:
(وَالَّذِيْنَ جَاءُوْ مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ
لَناَ وَِلأِخْوَانِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْناَ بِاْلاِيْمَانِ
وَلاَتَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِناَ غِلاًّ ِللَّذِيْنَ أَمَنُوْا رَبَّنَا
اِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ) وَتَقَدَّمَ قَوْلُ الرَّسُوْلِ اللهِ صَلَّى
الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ (وَاِذاَصَلَّيْتُمْ عَلىَ اْلمَيِّتِ
فَأَخْلِصُوْالَهُ اَلدُّعَاءَ) وَحُفِظَ مِنْ دُعَاءِ رَسُوْلِ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (اَللَّهُمَّ اْغفِرْ لِحَيِّنَا
وَمَيِّـتِـنَا) وَلاَزَالَ اَلسَّلَفُ وَالْخَلَفُ يَدْعُوْنَ
لِْلأَمْوَاتِ وَيَسْأَلُوْنَ لَهُمْ الرَّحْمَةُ وَاْلغُفْرَانُ دُوْنَ
اِنْكَارٍ مِنْ اَحَدٍ.
Artinya; “Do’a dan memohonkan ampun untuk mayit, pendapat ini telah menjadi kesepakatan
Ulama’, hal ini berdasarkan firman Allah Swt. dalam al-Qur’an surah
al-Hasyr ayat 10 (Dan orang-orang yang datang setelah mereka muhajirin
dan anshar berdo’a: Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara
kami yang telah mendahului kami dengan iman, dan jangan engkau jadikan
hati kami “mempunyai sifat” dengki kepada orang-orang yang beriman, Ya
Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha penyantun dan Maha penyayang). Dan
telah disebutkan sebelumnya sabda Rasulullah Saw. Jika kamu menyalati
mayid, maka ikhlaslah dalam berdo’a. Dan juga do’a Rasulullah Saw. Ya Allah, ampunilah orang-orang yang hidup dan yang meninggal kami (umat Nabi). Ulama’ salaf dan khalaf selalu mendo’akan orang-orang meninggal dan mereka memohonkan kepadanya rahmat dan ampunan, tanpa seorang pun mengingkarinya”.
4. Pengajian
Umum, yang kadang dirangkai dengan pembacaan secara singkat sejarah
orang yang dihauli, yang mencakup nasab, tanggal lahir dan wafat,
jasa-jasa, serta keistimewaan yang patut diteladani. Hal ini sesuai
dengan keterangan di bawah ini:
وَقَدْ
يُذْكَرُ فِيْهِ مَنَاقِبُ الْمُتَوَفَّى وَذٰلِكَ مُسْـتَحْسَنٌ
لِلْحَثِّ عَلىَ سُلُوْكِ طَرِيْقَتِهِ الْمَحْمُوْدَةِ كَمَا فِى
الْجُزْءِ الثاَّنِىْ مِنَ اْلفَتَوَى اْلكُبْرَى......
Terkadang
dituturkan juga manaqib (biografi) orang yang telah meninggal, cara ini
baik untuk mendorong orang lain agar mengikuti jalan (perilaku) terpuji
yang telah dilakukan si mayit, sebagaimana telah diterangkan dalam
kitab Fatawa al-kubra juz II.
5. Sedekah,
diberikan kepada orang-orang yang berpartisipasi pada acara selametan,
atau diserahkan langsung ke rumah tetangga (adat jawa: ater-ater atau
weh-weh/saling memberi). Hal ini berdasarkan pada perintah Nabi dalam
kitab Durratu al-Nasihin yang berbunyi:
وَقاَلَ
عَلَيْهِ الصَّلاَة ُوَالسَّلاَم ُ: (تَصَدَّقوُاْ عَنْ اَنـْفُـسِكُمْ
وَعَنْ مَوْتاَكُمْ وَلَوْ بِشُرْبـَةِ مَاءٍ فَـاِنْ لَمْ تَـقْدِرُوْا
عَلَى ذٰلِكَ فَـبِـاٰيَةٍ مِنْ كِتاَبِ اللهِ فَاِنْ لَمْ
تَعْلَمُوْاشَـيْـأً مِنْ كِتاَبِ اللهِ فَادْعُوْابِالْمَغْفِرَةِ
وَالرَّحْمَةِ فَقَدْ وَعَدَ كُمْ بِاْلاِجَابَةِ).
Rasulullah
Saw. bersabda: “bersedekahlah kamu sekalian untuk dirimu sendiri dan
untuk ahli quburmu walau hanya dengan seteguk air, jika kamu sekalian
tidak mampu bersedekah dengan seteguk air maka bersedekahlah dengan satu
ayat dari kitab Allah, jika kamu tidak mengetahui/tidak mengerti
sesuatu dari kitab Allah, maka berdo’alah dengan memohon ampunan dan
mengharap rahmat Allah, maka sesungguhnya Allah Swt. telah berjanji akan
mengabulkan”. (Durratu al-Nasihin, hal. 95)
Imam Nawawi berpendapat bahwa;
اَلصَّـدَقَةُ:
وَقَدْ حَكىَ اَلنَّوَوِىُّ اَلاِجْمَاعَ عَلىَ اَنَّهَا تَقَعُ عَنِ
اْلمَيِّتِ وَيَصِلُهُ ثَوَبُهَا سَوَاءٌ كَانَتْ مِنْ وَلَدٍ أَوْ مِنْ
غَيْرِهِ . لِـمَا رَوَاهُ اَحْمَدُ وَمُسْلِمٌ وَغَيْرُهُمَا عَنْ اَبِـىْ
هُرَيْرَةَ: اِنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّـبِىْ: اِنَّ أَبِـيْ مَاتَ
وَتَرَكَ مَـالاً وَلَمْ يُوْصِ فَهَلْ يُكَفِّـْر عَنْهُ اَنْ
اَتـَصَدَّقَ عَنْهُ ؟ قَالَ النَّـِبىْ , نَـعَـمْ.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar