BAB XIX
HUKUM HIBURAN DAN PERMAINAN
(Nyanyian, Orkesan, Musik, Tarian, Ludruk, Wayang dll)
Pengertian Hiburan dan Permainan
Macam-macam hiburan dalam istilah agama Islam menurut Syekh Ahmad bin Muhammad al-Shawy diistilahkan dengan ”Lahwun” dan untuk macam-macam seni musik seperti orkes dan lain sebagainya diistilahkan dengan istilah ”Laghwun” yang keduanya memiliki pengertian: segala hal yang dapat menyibukkan seseorang sehingga dapat melupakan kepentingan dirinya sendiri.
Adapun permainan dikategorikan dengan istilah ”La’bun” yaitu: segala hal yang dapat menyibukkan seseorang tanpa ada manfaatnya sama sekali terhadap keadaan diri ataupun hartanya.
Hal ini diterangkan di dalam kitab Tafsir al-Shawy juz 04 hal. 119:
إِنَّمَا
الحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَإِن تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا
يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلا يَسْأَلْكُمْ أَمْوَالَكُمْ (36)
Artinya:
Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. dan
jika kamu beriman dan bertakwa, Allah Swt. akan memberikan pahala
kepadamu dan dia tidak akan meminta harta-hartamu. (Q.S. Muhammad ayat
36)
اَللَّعْبُ مَـايُشْغِلُ اْلاِنْسَـانَ وَلَيْـسَ فِيْـهِ مَنْفَعَةٌ فِيْ الْحَـاِل وَاْلماَلِ وَاللَّـغْوُ مَـا يُشْغِلُ اْلاِ نْسَـانَ عَنْ مُهِمَّـاتِ نَفْسِـهِ (اَلصَّـاوِيْ عَلَى الْجَلاَ لَيْـنِ فِىْ تَفْسِيْـرِ قَوْلِـهِ تَعـَالىَ انَِّـمَا الْحَيـَاةُ الدُّنْيـَا لَعِبٌ وَلَـهْوٌ)
Hukum Hiburan dan Permainan
a. Haram
· Di dalam kitab Ihya’ Ulumi al-Diin diterangkan ada golongan yang mengharamkan nyanyian, mereka menggunakan dalil riwayat dari Ibnu Mas’ud al-Hasan al-Bishri dan al-Nakha’i, dengan landasan al-Qur’an Surat Luqman ayat 6. yang berbunyi:
وَمِنَ
النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِيْ لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ
اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ
مُّهِينٌ (6)
Dan
di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak
berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah Swt. tanpa
pengetahuan dan menjadikan jalan Allah Swt. itu olok-olokan. mereka itu
akan memperoleh azab yang menghinakan. (Q.S. Luqman ayat 6)
اِحْتَجُوْا
بِقَوْلِهِ تَعَالَى وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْتَرِيْ لَهْوَ الْحَدِيْثِ
قَالَ اِبْنُ مَسْعُوْدٍ وَالْحَسَنُ الْبِصْرِيُّ وَالنَّخَعِيُّ رَضِيَ
اللهُ عَنْهُمْ إِنَّ لَهْوَ الْحَدِيْثِ هُوَ الْغِنَاءُ (احياء علوم
الدين ج 2 باب بيان حجج القائلين بتحريم السماع والجواب عنها)
Mereka menafsirkan lafadz Lahwal Hadits (perkataan yang tidak berguna) ini dengan arti nyanyian.
· Ada
sebagian ulama’ memberi hukum haram pada hiburan dan permainan
(Nyanyian, Musik, Tarian, Ludruk, Wayang dll) dengan landasan dalil
hadits di bawah ini:
وَرَوَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اِنَّ اللهَ تَعَالىَ حَـرَّمَ الْقَيْنَةَ ( اَىْ اَلجْاَرِيَةَ ) وَبَيْعَهَا وَثمَٰنَهَا وَتَعْلِيْمَهَا
Aisyah
ra. Meriwayatkan hadits: Sesungguhnya Nabi Saw. bersabda: Sesungguhnya
Allah Swt. telah mengharamkan al-Qoinah (penyanyi wanita/budak wanita
yang menghibur), haram menjual belikannya, haram uang hasil darinya dan
haram mengajarkanya.
Dalam
Ihya’ Ulumuddin, Imam Ghozali menafsiri hadits di atas bahwa yang
dimaksud perkataan Qoinah ialah budak perempuan yang menyanyi untuk
laki-laki di tempat minum-minuman (semacam bar atau club malam/dugem).
فَنَقُوْلُ
أَمَّا الْقَيْنَةُ فَالْمُرَادُ بِهَا الْجَارِيَةُ الَّتِيْ تَغَنِّيَ
لِلرِّجَالِ فِيْ مَجْلِسِ الشُّرْبِ (احياء علوم الدين ج 2 باب بيان حجج
القائلين بتحريم السماع والجواب عنها)
· Golongan dari madzhab Hambali berpendapat Nyanyian
adalah haram hukumnya, baik dinyanyikan oleh perempuan maupun laki-laki
apabila mendatangkan syahwat bagi orang yang mendengarkan atau
menyebabkan bercampurnya kaum laki-laki dan wanita atau disertai
mabuk-mabukan.
اَلْحَناَبِلَةُ
- قاَلُوْا : اَلْغِناَءُ حَرَامٌ سَوَاءٌ كَانَ مِنَ النِّسَاءِ أَمْ
مِنَ الرِّجاَلِ إِذاَ كاَنَ الْقَوْلُ يُثِيْرُ الشَّهْوَةَ لِمَنْ
اِسْتَمَعَ إِلَيْهِ أَوْ أَدَى إِلَى اخْتِلاَطِ الرِّجاَلِ بِالنِّساَءِ
أَوْ خُرُوْجِ عَنْ حِشْمَةٍ وَوَقاَرٍ ( الفقه على المذاهب الاربعة الجزء 5 ص 27 )
b. Makruh
· Menurut
Imam Tabrani dalam kitabnya al-Mu’jam al-Ausat hukum dari hiburan dan
permainan (nyanyian, musik, seni tari, ludruk, wayang, dll.) adalah
makruh.
حَدَثَنَا
مُحَمَّدِ بْنِ مَحْمُوِيَّهْ اَلْجَوْهَرِيُّ اَلأَهْوَازِيُّ ،
حَدَثَنَا حَفْصٍ بِنْ عُمَرُو الرَّبَّالِيْ ، حَدَثَنَا اْلمُنْذِرُ بْنُ
زِيَادٍ الَطَّائِيُّ ، عَنْ زَيْدٍ بْنِ أَسْلَمْ ، عَنْ أَبِيْهِ ، عَنْ
عُمَرُ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله
ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « كُلُّ لَهْوٍ يُكْرَهُ إِلاَّ مُلاَعِبَةُ
الرَّجُلِ اِمْرَأَتَهُ ، وَمَشِيْهِ بَيْنَ اْلهَدَفَيْنِ ،
وَتَعْلِيْمِهِ فَرَسَهُ » « لمَ ْيَرْوِ هٰذَا الْحَدِيْثِ عَنْ زَيْدٍ
بْنِ أَسْلَمْ إِلاَّ اْلمُنْذِرُ بْنُ زِيَادْ ، تَفَرَّدَ بِهِ: حَفْصُ
بْنُ عُمَرُو الَرَّبَّالِيْ » (المعجام الاوسط للطبرنى ج 7 ص 170)
Dan diambil dari pendapat Imam Syafi’i, bahwa beliau berkata: sesungguhnya ghina’ (Lagu-laguan) merupakan hiburan yang dimakruhkan, serupa
dengan perbuatan batil. Barang siapa terlalu banyak terlena karenanya
maka dia dianggap bodoh dan ditolak kesaksiannya. Keterangan dalam kitab
al-Fiqhu ‘ala Madzahib al-Arba’ah:
فَقَدْ
نُقِلَ عَنِ اْلإِ مَامِ الشَّافِعِى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ:
اَلْغِنَاءُ لهَوْ ٌمَكْرُوْهٌ يُشْبِهُ الْباَطِلُ, مَنِ اِسْتَكْثَرَ
مِنْهُ فَهُوَ سَفِيْهٌ وَتُرَدُّ شَهَادَتُهُ.(كتاب الفقه على المذاهب
الأربعة الجزء 5 ص 54)
· Imam
Al-Qaffal, Al-Rauyani dan Abu Mansur berpendapat bahwa hiburan dan
permainan seperti tari-tarian berirama hukumnya makruh tidak sampai
haram dengan alasan bahwa hal tersebut termasuk ”lahwun, laghwun dan
la’bun” (dagelan, musik dan pemainan). Hal ini diterangkan dalam kitab الإتحاف على الإحياء dan dalam kitab احيـاء فى باب السمـاع, sama halnya nyanyian dan mendengarkan lagu atau musik. Keterangan dari kitab Al-Manhaj juz 5 hal 380.
وَلَنَذْكُرُمـَا
لِلْعُلَمـَاءِ فِيـْهِ اَيْ فِي الـَّرقْصِ مِنْ كَلاَمِ فَذَهَبَتْ
طَاِئـفَةٌ اِلىَ كَرَاهَتِـهِ مِنْهُمْ اَلْقَفَّـالُ حَـكَاهُ عَنْهُ
الَرَّوْيـَانِـيْ فِي اْلبَحْرِ. وَقَـالَ اَلأُسْتـَاذُ اَبـُوْ
مَنْصُـوْر تُكَلِّفُ اَلـَّرقْصُ عَلىَ اْلإِ يْقـَاعِ مَكْرُوْهٌ
وَهٰـؤُلاَءِ اِحْتَجُـوْا بِاَنَّهُ لَعِبٌ وَلَـهْوٌ وَهُوَ مَكْرُوْهٌ.
· Imam
Ghozali berpendapat dalam kitab Ihya’ Ulumuddin juz 02 bahwasanya
nyanyian, orkesan dan sejenisnya adalah termasuk hiburan (Laghwun) yang
dimakruhkan, serupa dengan perbuatan batil tetapi tidak sampai haram,
sebagai contoh adalah permainan orang-orang Habasyah dan tarian mereka,
Rasulullah pernah menyaksikannya dan tidak membencinya. Dalam hal ini Lahwun dan laghwun tidak dimurkai Allah Swt.
اَلْغِنـَاءُ
لَـهْوٌ مَكْرُوْهٌ يُشْبِهُ اْلبـَاطِلَ وَقَوْلِـِه لَـهْوٌ صَحِيْحٌ
وَلَكِنَّ اللَّهْوَ مِنْ حَيْثُ اَنَّهُ لَـْهوٌ لَيْسَ بِـحَرَامٍ
فَلَعْبُ اْلحَبَشَةِ وَرَقْصُهُمْْ لَـهْوٌ وَقَدْ كَانَ صَلَّى اللهُ
عَلَيْـهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ اِلَيْهِ وَلاَ يَكْرَهُهُ بَلِ اللَّّّـهْوُ
وَاللَّـغْوُ لاَ يـُؤَا خِذُ الله ُبِهِ (احيـاء جز 2 فى باب السمـاع )
· Menurut Qordowi, hiburan dan permainan (Nyanyian, Musik, Tarian, Ludruk, Wayang dll) hukumnya adalah باطل
apabila digunakan untuk sesuatu yang tidak ada faidah dan membuat
seseorang sibuk sehingga sampai mengganggu atau dapat mengurangi
ketaatannya kepada Allah Swt., sedangkan hukum melakukan sesuatu yang
tidak berfaidah tidaklah haram selama tidak menyia-nyiakan hak atau
melalaikan kewajiban. Pendapat Qordowi ini berdasarkan Hadits:
كُلُّ لَهْوٍ بَاطِلٌ إِذَا شَغَلَهُ عَنْ طَاعَةِ اللَّهِ )صحيح البخاري , كتاب بدء الوحي(
Artinya: Setiap hiburan itu adalah batil apabila bisa melalaikan seseorang dari ketaatan kepada Allah Swt.
· Menurut
riwayat Imam al-Baihaqi hukum nyanyian atau orkesan dan sejenisnya
dihukumi makruh karena dapat menumbuhkan kemunafikan dalam hati, seperti
halnya air bisa menumbuhkan tanaman. Diterangkan dalam kitab al-Sunan al-Kubro lii al-Baihaqi bab al-Rajul Yaghni Fayattakhidu al-Ghina’ juz 7 halaman 931.
وَ
أَخْبَرَنَا ابْنُ بِشْرَانَ أَنْبَأَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ صَفْوَانَ
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِى الدُّنْيَا حَدَّثَنَا عَلِىُّ بْنُ الْجَعْدِ
أَنْبَأَنَا مُحَمَّدُ بْنُ طَلْحَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ كَعْبٍ
الْمُرَادِىِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ عَنِ
ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِى الْقَلْبِ
كَمَا يُنْبِتُ الْمَاءُ الزَّرْعَ وَالذِّكْرُ يُنْبِتُ الإِيمَانَ فِى
الْقَلْبِ كَمَا يُنْبِتُ الْمَاءُ الزَّرْعَ.
c. Boleh
· Imam Bukhari meriwayatkan hadits dalam kitab sahihnya bab an-Niswah al-Laati Yahdina al-Mar'ah juz 1 hal 145 dari Siti Aisyah bahwa Nabi pernah berkata:
4765
– حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ يَعْقُوبَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَابِقٍ
حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ
عَائِشَةَ أَنَّهَا
زَفَّتْ امْرَأَةً إِلَى رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ فَقَالَ نَبِيُّ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ مَا كَانَ
مَعَكُمْ لَهْوٌ فَإِنَّ الْأَنْصَارَ يُعْجِبُهُمْ اللَّهْوُ
Dari
hadits tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Nabi
menginginkan seorang penyanyi yang dapat disuruh Nabi untuk menghibur
kaum Anshar ketika Siti Aisyah menikahkan seorang gadis dengan pemuda
anshar karena kaum anshar sangat kagum dan senang dengan nyanyian.
· Diceritakan
dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Nasa'i bahwa
pada hari raya sahabat Abu Bakar berkunjung ke rumah Siti Aisyah untuk
halal bi halal kepada Nabi Saw.,
ketika beliau masuk beliau menjumpai ada dua gadis di samping Siti
Aisyah yang sedang menyanyi, seketika itu Abu Bakar menghardik mereka
seraya berkata: Apakah pantas ada seruling syaitan di rumah Rasulullah?!
Kemudian Nabi Saw. bersabda:
“Biarkanlah mereka, wahai Aba Bakar, sesungguhnya hari ini adalah hari
raya. Adapun bunyi hadits yang menceritakan peristiwa itu adalah sebagai
berikut ini dalam kitab Sunan an-Nasai juz 6 hal. 59.
أَخْبَرَنَا
أَحْمَدُ بْنُ حَفْصِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ
حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ طَهْمَانَ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ
الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ عَائِشَةَ حَدَّثَتْهُ أَنَّ
أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا جَارِيَتَانِ
تَضْرِبَانِ بِالدُّفِّ وَتُغَنِّيَانِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسَجًّى بِثَوْبِهِ وَقَالَ مَرَّةً أُخْرَى مُتَسَجٍّ
ثَوْبَهُ فَكَشَفَ عَنْ وَجْهِهِ فَقَالَ دَعْهُمَا يَا أَبَا بَكْرٍ
إِنَّهَا أَيَّامُ عِيدٍ وَهُنَّ أَيَّامُ مِنَى وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَئِذٍ بِالْمَدِينَةِ
Dari
cerita di atas bisa dibuat dalil bahwa Nabi tidak melarang hiburan dan
permainan (nyanyian, orkesan, musik, tarian, ludruk, wayang dll).
· Menurut
Imam Al-Fauroni: Hukum dari hiburan dan permainan (nyanyian, orkesan,
musik, tarian, ludruk, wayang, dll) adalah boleh, dengan alasan bahwa
semua perkara itu adalah termasuk Lahwun, Laghwun dan La’bun dan hukum
asal dari Lahwun, Laghwun dan La’bun itu adalah mubah. Diterangkan di dalam kitab al-Itkhaf juz 06.
وَهَـؤُلاَءِ اِحْتَجُّـوْا بِاَنَّهُ لَعْبٌ وَلَـهْوٌ وَهُوَ مَكْرُوْهٌ وَذَهَبَتْ طَائِـفَةٌ إِلَى إِبَاحَتِـهِ قَـالَ اَلْفَـوْرَانِـيْ فِيْ كِتـَابِهِ اَلْعُمْدَةُ اَلْغِنَـاءُ يُبـَاحُ أَصْلُهُ
· Imam
Haromain, Imam al-Makhali, Imam Ibni ‘Imad Al-Suhrowardi, Imam Rofi’i
dan Ibnu Abi Dam berpendapat: Hiburan tarian atau sejenisnya adalah
tidak haram, apabila tidak menyebabkan rusaknya harga diri dan tidak ada
penyerupaan laki-laki dengan perempuan atau sebaliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar