BAB IV
HUKUM BERPINDAH-PINDAH MADZHAB
Bagaimanakah
hukum berpindah-pindah dalam mengikuti pendapat madzhab, semisal
penganut madzhab Syafi’i memilih atau mengikuti qoul yang ringan dari
qoul atau pendapat selain dari madzhab Imam Syafi’i atau sebaliknya?
A. Fasiq, apabila untuk mencari kemudahan-kemudahan hukum saja. Keterangan kitab Fatkhu al-Mu’in halaman 138
(فَائِدَةٌ)
إِذَا تَمَسَّكَ اْلعَامِيْ ِبمَذْهَبٍ لَزِمَهُ مُوَافَقَـتُهُ وَإِلاَّ
لَزِمَهُ التَمَذْهُبَ بِمَذْهَبٍ مَعَيَّنٍ مِنَ اْلأَرْبَعَةِ لاَ
غَيْرِهَا ثُمَّ لَهُ وَإِنْ
عَمِلَ بِاْلأَوَّلِ َاْلإِنْتِقاَلَ إِلىَ غَيْرِهِ باِلْكُلِّيَةِ أَوْ
فِي الْمَسَائِلِ بِشَرْطٍ أَنْ لاَ يَتَتَبَّعَ الرَّخَصَ بِأَنْ يَأْخُذَ
مِنْ كُلِّ مَذْهَبٍ بِاْلأَسْهَلِ مِنْهُ فَيَفْسُقُ بِهِ عَلَى
اْلأَوْجَهِ
(Faidah)
jika orang awam berpegang teguh pada suatu madzhab maka wajib
mengikutinya, jika tidak atau berpindah madzhab maka wajib mengikuti
madzhab yang jelas dari salahsatu madzhab empat (madzhab Hanafi, Maliki,
Syafi’i dan Hambali) tidak kepada madzhab yang lainnya, jika orang awam
yang sudah mengikuti madzhab yang awal menginginkan berpindah ke
madzhab yang lain (hukumnya boleh) dengan syarat harus mengikuti
pendapat madzhab tersebut satu rumpun atau satu qodhiyah secara utuh,
atau hanya ikut dalam beberapa jenis masalah saja dengan syarat tidak
mengambil atau memilih pendapat yang ringan dari setiap madzhab yang
lebih mudah, jika begitu (hanya memilihi yang ringan-ringan saja) maka
termasuk perbuatan fasik (menurut pendapat yang terpecaya).
B. Boleh secara mutlak, dalam artian berpindah madzhab untuk suatu kebutuhan tertentu atau berpindah-pindah madzhab
hanya untuk mencari suatu kemudahan saja, asalkan tidak melakukan
talfiq. Talfiq adalah menghimpun atau bertaqlid dengan dua imam madzhab
atau lebih dalam satu perbuatan yang memiliki rukun, bagian-bagian yang
terkait satu dengan lainnya yang memiliki hukum yang khusus, kemudian
mengikuti satu dari pendapat yang ada. Hal ini diterangkan dalam kitab
I’anah al-Thalibin juz 4 halaman 217
(
قَوْلُهُ ثُمَّ لَهُ ) أَيْ ثُمَّ يَجُوْزُ لَهُ اِلَخْ قَالَ اِبْنُ
الْجَمَالِ ( إِعْلَمْ ) أَنَّ اْلأَصَحَّ مِنْ كَلاَمِ الْمُتَأَخِّرِيْنَ
كَالشَّيْخِ اِبْنِ حَجَرٍ وَغَيْرِهِ أَنَّهُ يَجُوْزُ َاْلاِنْتِقَالُ
مِنْ مَذْهَبٍ إِلىَ مَذْهَبٍ مِنَ اْلمَذَاهِبِ اَلْمُدَوِّنَةِ وَلَوْ
بِمُجَرِّدِ التَّشَهِّى سَوَاءٌ اِنْتِقَلَ دَوَاماً أَوْ فِيْ بَعْضِ
الْحَادِثَةِ وَإِنْ أَفْتىَ أَوْ حَكَمَ وَعَمِلَ بِخِلاَفِهِ ماَ لَمْ
يَلْزَمْ مِنْهُ التَّلْفِيْقُ اهـ (اعانة الطالبين ج 4 ص 217)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar