BAB XIII
PUASA
Penetapan Awal dan Akhir Bulan Ramadlan
Masih
ada perbedaan di kalangan umat Islam tentang penetapan awal dan akhir
bulan Ramadlan. Sebagian menggunakan ru’yah (melihat bulan) dan sebagian
lain memakai hisab (hitungan). Bagaimanakah sebenarnya cara yang tepat
dan sesuai dengan ajaran Nabi?
Ada dua cara yang disepakati oleh jumhur (mayoritas) ulama’ untuk menentukan awal dan akhir puasa, yakni:
a. Dengan melihat bulan
b. Dengan menyempurnakan hitungan bulan Sya’ban.
Sebagaimana
keterangan dalam kitab Ghoyatu al-Maqshad Fii Zawaidi al-Musnad bab
Ru’yah al-Hilal, Sunan al-Daruqutni bab kitabu al-Shiyam, Ithaaf
al-Khairah al-Mahrah bab Kitab Zakat, atau kitab-kitab hadits yang lain:
حَدَّثَنَا
إِسْحَاقُ بْنُ عِيسَى، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَابِرٍ، عَنْ قَيْسِ
بْنِ طَلْقٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه
وسلم: "إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ جَعَلَ هَذِهِ الأَهِلَّةَ مَوَاقِيتَ
لِلنَّاسِ، صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمَّ
عَلَيْكُمْ فَأَتِمُّوا الْعِدَّةَ.
Telah
bercerita kepadaku Ishaq bin Isa, Muhammad bin Jabir telah
memberitahuku, dari Qais bin Thalqin, dari ayahnya, dia berkata: Rasulullah
Saw. bersabda sesungguhnya Allah ‘Azza Waa Jalla Menjadikan bulan-bulan
sebagai batasan waktu bagi manusia, maka berpuasalah karena melihatnya
(hilal), dan berbukalah karena melihatnya juga. Apabila bulan tertutup mendung maka sempurnakanlah hitungan bulan sya’ban (30 hari). (Ghoyatu al-Maqshad Fii Zawaidi al-Musnad bab Ru’yah al-Hilal)
Dan dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin halaman 108 dijelaskan;
لاَيَثْبُتُ رَمَضَانُ كَغَيْرِهِ مِنَ الشُّهُوْرِ اِلاَّ بِرُؤْيَةِ الْهِلاَلِ أَوْ اِكْماَلِ اْلعِدَّةِ ثَلاَثِيْنَ بِلاَفَرْقٍ
Bulan
Ramadlan sama seperti bulan lainnya disepakati tidak boleh ditetapkan
kecuali dengan telah melihat hilal, atau menyempurnakan bilangan menjadi
30 hari. (Bughyah al-Mustarsyidin, hal. 108)
Waktu Niat
Puasa
adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa mulai
dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari, misalnya makan dan minum
dan lain-lain.
Para ulama’ sepakat bahwa puasa Ramadlan hukumnya adalah fardhu ‘ain, karena termasuk rukun Islam. Akan tetapi terdapat ikhtilaf tentang waktu pelaksanaan niat puasa Ramadlan?
a. Menurut Imam Syafi’i dan Imam Ahmad Ibnu Hambal.
Niat puasa Ramadlan dilakukan setiap hari pada waktu malam hari dan untuk puasa sunnah tidak wajib niat di malam hari.
وَمِنْ ذَلِكَ قَوْلُ اْلأَئِمَّةِ الثَّلاَثَةِ إِنَّ صَوْمَ رَمَضَانَ يَفْتَقِرُ كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى نِيَةٍ مُجَرِّدَةٍ مَعَ قَوْلِ مَالِكٍ إِنَّهُ يَكْفِيْهِ نِيَةٌ وَاحِدَةٌ مِنْ أَوَلِ لَيْلَةٍ مِنَ الشَّهْرِ اَنَّهُ يَصُوْمُ جَمِيْعَهُ.
( الميزان الكبرى ج 2 ص 27 )
وَمِنْ ذلك قَوْلُُ اْلأَئِمَّةِ الثَّلاَثَةِ إِنَّ صَوْمَ النَّفْلِ يَصِحُّ بِنِيَّةٍ قَبْلَ الزَّوَالِ مَعَ قَوْلِ ماَلِكٍ إِنَّهُ لاَ يَصِحُّ بِنِيَّةٍ مِنَ النَّهَارِ كاَلْوَاجِبِ
( الميزان الكبرى ج 2 ص 21 )
Lafadz niatnya adalah;
v نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَداَءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضاَنِ هذِهِ السَّنَةِ فَرْضاً ِللهِ تَعاَلَى
v نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ رَجَبَ سُنَّةً ِللهِ تَعاَلَى
b. Menurut Imam Malik
Niat puasa Ramadlan cukup satu kali pada awal bulan Ramadlan yang dilakukan di malam hari.
وَمِنْ ذَلِكَ قَوْلُ اْلأَئِمَّةِ الثَّلاَثَةِ إِنَّ صَوْمَ رَمَضَانَ يَفْتَقِرُ كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى نِيَةٍ مُجَرِّدَةٍ مَعَ قَوْلِ مَالِكٍ إِنَّهُ يَكْفِيْهِ نِيَةٌ وَاحِدَةٌ مِنْ أَوَلِ لَيْلَةٍ مِنَ الشَّهْرِ اَنَّهُ يَصُوْمُ جَمِيْعَهُ.
( الميزان الكبرى ج 2 ص 27 )
Begitu juga dengan puasa sunnah, seperti puasa di bulan rajab menurut Imam Malik cukup niat satu kali yang dilakukan pada malam hari.
وَمِنْ ذلك قَوْلُُ اْلأَئِمَّةِ الثَّلاَثَةِ إِنَّ صَوْمَ النَّفْلِ يَصِحُّ بِنِيَّةٍ قَبْلَ الزَّوَالِ مَعَ قَوْلِ ماَلِكٍ إِنَّهُ لاَ يَصِحُّ بِنِيَّةٍ مِنَ النَّهَارِ كاَلْوَاجِبِ ( الميزان الكبرى ج 2 ص 21 )
Lafadz niatnya adalah;
v نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرٍ عَنْ أَداَءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضاَنِ هذِهِ السَّنَةِ فَرْضاً ِللهِ تَعاَلَى
v نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرٍ مِنْ رَجَبَ سُنَّةً ِللهِ تَعاَلَى
c. Menurut Imam Abu Hanifah
Sah, Niat puasa Ramadlan yang dilakukan pada waktu malam maupun siang hari hingga waktu zawal (matahari condong ke barat)
dengan syarat niatnya disesuaikan dengan puasa yang dikerjakan,
misalnya puasa Ramadlan, puasa Nadzar dan puasa-puasa yang lainnya. (Al-Mizan al-Kubra, juz II, hal.20)
اَلثَّانِي
مَعَ قَوْلِ أَبِىْ حَنِيْفَةَ إِنَّهُ لاَيَجِبُ التَّعْيِيْنُ اَىْ
التَّثْبِيْتُ, بَلْ تَجُوْزُ النِّيَةُ مِنَ اللَّيْلِ فَإِنْ لَمْ يَنْوِ
لَيْلاً أَجْزَأَتْهُ النِّـيَةُ إِلَى الزَّوَالِ وَكَذلِكَ قَوْلُهُمْ
فِي النَّذْرِ الْمُعَيَّنِ.
( الميزان الكبرى :20:2 )
Puasa Sunnah dengan Niat Qadla’ Ramadlan
Terkadang
seseorang dalam melakukan kewajiban berpuasa Ramadlan ada udzur
(hal-hal yang membolehkan untuk tidak melaksanakannya), akan tetapi dia masih mempunyai kewajiban untuk menggantinya di lain hari. Jika orang tersebut melakukan qadha’ Ramadlan bersamaan dengan berpuasa sunnah dengan niat mengqadla’ puasa Ramadlan, bagaimanakah hukum dari niat tersebut?
Dalam masalah ini para ulama’ berpendapat sesuai dengan kadar keyakinan seseorang yang meninggalkan puasa tersebut.
a. Tidak sah, puasa sunnah dengan diniati mengqadla’
puasa Ramadlan, jika orang tersebut masih ragu bahwa dia pernah
meninggalkan puasa Ramadlan, jadi lebih baik cukup diniati satu puasa
sunnah saja.
b. Boleh dan Sah, puasa sunnah dengan diniati mengqadla puasa Ramadlan. Kalau memang benar-benar pernah meninggalkan puasa Ramadlan.
وَيُؤْخَذُ مِنْ مَسْأَلَةِ اْلوُضُوْءِ هذِهِ اِنَّهُ لَوْشَكَّ اَنَّ عَلَيْهِ قَضاَءٌ مَثَلاً فَنَوَاهُ اِنْ كاَنَ وَاِلاَّ فَتَطَوُّعٌ صَحَّتْ
نِيَّتُهُ اَيْضاً وَحَصَلَ لَهُ اْلقَضَاءُ بِتَقْدِيْرِ وُجُوْدِهِ بَلْ
وَاِنْ باَنَ اِنَّهُ عَلَيْهِ وَاِلاَّ حَصَلَ لَهُ التَّطَوُّعُ كَمَا
يَحْصُلُ فِى مَسْأَلَةِ الْوُضُوْءِ اِلَى اَنْ قَالَ : وَبِهَذَا
يَعْلَمُ اَنَّ الْاَفْضَلَ لِمُرِيْدِ التَّطُوُّعُ بِالصَّوْمِ اَنْ
يَنْوِىَ الْوَاجِبَ اِنْ كاَنَ عَلَيْهِ وَاِلاَّ فَالتَّطَوُّعُ
لِيَحْصُلَ لَهُ مَا عَلَيْهِ اِنْ كاَنَ. (الفتاوى الكبرى كتاب الصوم ج 2 ص
50)
Dapat
dipahami dari masalah wudlu’ ini bahwasannya jika ragu-ragu ia punya
kewajiban yang harus diqadla’, maka dia harus berniat mengqadla’nya.
Jika tidak kemudian dia shalat sunnah, maka niatnya tetap sah dan
qadla’nyapun terbayar bahkan seandainya jelas bahwa dia memang mempunyai
kewajiban qadla’, jika tidak, maka dia memperoleh sunnah sebagaimana
dalam masalah wudlu’…. Dengan demikian diketahui, bahwa yang lebih baik
bagi orang yang ingin niat sunnah dalam puasanya, maka dia berniat puasa
wajib jika memang ada kewajiban terhadapnya, jika tidak maka dia niat
puasa sunnah agar memperoleh apa yang menjadi kewajiban terhadapnya. (Al-Fatawi al-Kubra, Bab Kitab al-shaum juz 2 halaman 50)
Mengqodlo’ Puasa dan Haji untuk Orang yang Telah Meninggal
Mengqodlo’ puasa dan haji untuk orang yang telah meninggal, yaitu melakukan puasa dan haji untuk orang yang sudah meninggal ketika dia masih mempunyai tanggungan puasa dan Haji. Seperti keterangan sebagai berikut:
عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ ماَتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ
Diceritakan dari Siti Aisyah, Rasulullah Saw. bersabda: Apabila ada orang mati, sementara dia masih punya tanggungan puasa, maka walinya harus berpuasa untuknya. (Shahih Muslim, juz II, hal. 463, al-Jam’u Baina al-Sakhikhaini al-Bukhari, dan dalam kitab-kitab hadits yang lainnya)
وَحَدَّثَنِى
عَلِىُّ بْنُ حُجْرٍ السَّعْدِىُّ حَدَّثَنَا عَلِىُّ بْنُ مُسْهِرٍ أَبُو
الْحَسَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَطَاءٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ - رضى الله عنه - قَالَ بَيْنَا أَنَا جَالِسٌ
عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذْ أَتَتْهُ امْرَأَةٌ
فَقَالَتْ إِنِّى تَصَدَّقْتُ عَلَى أُمِّى بِجَارِيَةٍ وَإِنَّهَا مَاتَتْ
- قَالَ - فَقَالَ « وَجَبَ أَجْرُكِ وَرَدَّهَا عَلَيْكِ الْمِيرَاثُ ». قَالَتْ
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ كَانَ عَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ أَفَأَصُومُ
عَنْهَا قَالَ « صُومِى عَنْهَا ». قَالَتْ إِنَّهَا لَمْ تَحُجَّ قَطُّ
أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ « حُجِّى عَنْهَا ». (صحيح مسلم)
Telah
bercerita kepadaku Ali bin Hujrin al-Sa’dy, telah bercerita kepadaku
Ali bin Mushir Abu al-Hasan dari Abdullah bin Ato’ dari Abdullah bin
Buraidah dari ayahnya ra. beliau berkata: suatu hari aku duduk di samping Nabi Saw. kemudian ada seorang perempuan datang kepada Nabi dan ia berkata; sebenarnya aku bersedekah untuk ibuku
dengan seorang hamba, sedangkan ibuku telah meninggal. Maka Nabi
berkata: Pahalanya tetap bagimu dan harta warisannya tetap kembali
kepadanu. Perempuan itu berkata lagi, Ya Rasulallah, sesungguhnya
ibuku mempunyai tanggungan puasa Ramadlan, bolehkan aku puasa untuknya?.
Rasul menjawab: Berpuasalah untuk ibumu. Kemudian
perempuan itu bertanya lagi sebenarnya ibuku belum melaksanakan ibadah
haji, bolehkan aku melakukan haji untuknya? Rasul menjawab: Berhajilah
untuk ibumu. (Sahih Muslim)
Dengan demikian, haji yang belum ditunaikan dan puasa yang telah ditinggalkan oleh mayit bisa diqodho’.
Hukum Merokok Ketika Sedang Berpuasa
Puasa
adalah menahan makan dan minum yang dimulai sejak fajar sampai masuknya
waktu adzan maghrib, akan tetapi di kalangan masyarakat kita terdapat
beberapa persoalan tentang bagaimana hukumnya orang yang sedang berpuasa tetapi dia menghisap rokok?
Hal-hal yang dapat membatalkan puasa salah satunya adalah masuknya sesuatu/’ain (seperti air, minuman atau makanan) melalui beberapa lubang yang terdapat di dalam anggota tubuh yang bisa sampai ke lambung. Begitu juga dengan asap dari hisapan rokok, apabila seseorang sedang berpuasa dan dia menghisap rokok, maka hukumnya adalah: Membatalkan puasa, karena asap rokok itu mengandung nikotin dan nikotin tersebut adalah termasuk kategori ‘ain. Diterangkan dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin;
(فَائِدَةٌ)
لاَ يَضُرُّ وُصُوْلُ الرِّيْحِ بِالشَّمِّ وَكَذَا مِنَ الْفَمِّ
كَرَاءِحَةِ الْبُخُوْرِ أَوْ غَيْرِهِ اِلَى الْجَوْفِ وَاِنْ تَعَمَّدَهُ
لِأَنَّهُ لَيْسَ عَيْناً وَخَرَجَ بِهِ ماَ فِيْهِ عَيْنٌ كَرَاءِحَةِ
النُتْنِ يَعْنِى اَلتَّنْباَكُ لَعَنَ اللهُ مِنْ أَحَدِثِهِ لِأَنَّهُ
مِنَ اْلبِدْعِ اْلقَبِيْحَةِ فَيَفْطُرُ بِهِ. (بغية المستر شدين باب شروط الصوم ص 111)
Tidak
membatalkan puasa sampainya angin dengan indra pencium, begitu juga
menghirup angin atau asap melalui mulut (tidak membatalkan puasa)
walaupun disengaja, karena bukan merupakan ‘ain (benda), dikecualikan
hal yang ada ‘ainnya seperti asap rokok (tembakau) yang dapat membatalkan puasa karena termasuk katagori memasukkan ‘ain (nekotin) dan juga termasuk bid’ah yang jelek. (Bughyah al-Mustarsyidin, bab Syurut al-Shaum. hal.111)
Memang
sebelumnya Imam Zayyadi pernah berpendapat bahwa merokok tidaklah
membatalkan puasa, karena beliau mengira asap yang dihasilkan dari rokok
itu sama saja dengan asap pada umumnya dan tidak termasuk kategori
‘ain, tetapi setelah beliau mengetahui kenyataannya secara pasti bahwa
asap yang dihasilkan dari rokok tersebut ada kandungan nikotinnya, maka
Imam Zayyadi merevisi pendapatnya yang pertama yaitu: Merokok tidak
membatalkan puasa direvisi dengan pendapatnya yang kedua yaitu: Merokok
dapat membatalkan puasa. Hal ini diterangkan dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin, bab Syurut al-Shaum. hal.111-112.
(فَائِدَةٌ)
لاَ يَضُرُّ وُصُوْلُ الرِّيْحِ بِالشَّمِّ وَكَذَا مِنَ الْفَمِّ
كَرَاءِحَةِ الْبُخُوْرِ أَوْ غَيْرِهِ اِلَى الْجَوْفِ وَاِنْ تَعَمَّدَهُ
لِأَنَّهُ لَيْسَ عَيْناً وَخَرَجَ بِهِ ماَ فِيْهِ عَيْنٌ كَرَاءِحَةِ
النُتْنِ يَعْنِى اَلتَّنْباَكُ لَعَنَ اللهُ مِنْ أَحَدِثِهِ لِأَنَّهُ
مِنَ اْلبِدْعِ اْلقَبِيْحَةِ فَيَفْطُرُ بِهِ , وَقَدْ أَفْتىَ ز.ي.
بَعْدَ أَنْ أَفْتَى اَوَّلاًَ بِعَدَمِ اْلفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَرَاهُ اهـ
ش.ق. (بغية المستر شدين باب شروط الصوم ص 111-112)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar