BAB XI
WAKAF DAN MASJID
Hukum Menjual Barang Wakaf
Sebelum
membahas tentang hukum menjual barang wakaf, perlu kita ketahui
pengertian wakaf terlebih dahulu, pengertian wakaf adalah sebagai
berikut:
اَلْوَقَفُ
لُغَةً اَلْحَبْسُ وَشَرْعًا حَبْسُ مَالِ عَيْنٍ قَابِلٍ لِلنَّقْلِ
يُمْكِنُ الْاِنْتِفَاعُ بِهِ مَعَ بَقَاءِ عَيْنِهِ تَقَرُّباً اِلَى
اللهِ.
Wakaf
secara bahasa mempunyai arti menahan. Sedangkan menurut istilah adalah
menahan bentuk harta yang dapat dipindah, diambil manfaatnya serta tetap
bentuk barangnya yang dikerjakan karena Allah Swt.
Barang waqaf haruslah dimanfaatkan sesuai dengan keinginan waqif (orang yang
mewaqafkan), namun terkadang terjadi kebingungan dalam mengelola barang
waqafan yang sudah rusak atau kurang memberikan manfaat.
Para
ulama’ berbeda pendapat mengenai hukum barang wakaf, apakah barang
wakaf boleh dijual karena sebab-sebab tertentu dan kemudian hasil
penjualan itu dibelanjakan dengan barang lain?
Dalam masalah ini ada tiga pendapat:
a. Menurut Imam Malik dan Imam Syafi’i: Barang wakaf tidak boleh dijual.
b. Menurut Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Abu Hanifah: Boleh menjual barang wakaf dan kemudian membelanjakan hasil dari penjualannya dengan barang yang semisal atau barang lain yang lebih bermanfaat.
c. Menurut Imam Muhammad: Barang wakaf tersebut dikembalikan kepada pemiliknya yang pertama.
Diterangkan dalam kitab Rahmat al-Ummah fi Ikhtilaaf al-Ummah, hal 186 dan dalam kitab Jawahir al-‘Uqud juz 1 hal.254.
فَصْلٌ:
وَاتَّفَقُوْا عَلَى أَنَّهُ إِذَا خَرِبَ الْوَقْفُ لَمْ يَعُدْ إِلَى
مِلْكِ الْوَاقِفِ. ثُمَّ اخْتَلَفُوْا فِيْ جَوَازِ بَيْعِهِ، وَصَرْفِ
ثَمَنِهِ فِيْ مِثْلِهِ، وَإِنْ كاَنَ مَسْجِدًا. فَقَالَ مَالِكٌ
وَالشَّافِعِيُّ: يَبْقَى عَلَى حاَلِهِ فَلاَ يُباَعُ. وَقاَلَ أَحْمَدُ:
يَجُوْزُ بَيْعُهُ وَصَرْفُ ثَمَنِهِ فِيْ مِثْلِهِ. وَكَذلِكَ فِيْ
الْمَسْجِدِ إِذَا كاَنَ لاَ يُرْجَى عَوْدُهُ. وَلَيْسَ عِنْدَ أَبِيْ
حَنِيْفَةَ نَصٌّ فِيْهَا وَاخْتَلَفَ صاَحِبَاهُ فَقَالَ أَبُوْ يُوْسُفَ:
لاَ يُباَعُ. وَقَالَ مُحَمَّدُ: يَعُوْدُ إِلَى ماَلِكِهِ اْلاَوَّلِ.
(جواهر العقود ج 1 ص 254)
Diterangkan dalam kitab Ahkamul Fuqaha’, juz 2 hal 74;
هَلْ
يَجُوْزُ لِنَاظِرِ اْلأَرْضِ الْمَوْقُوْفَةِ عَلَى الْمَسْجِدِ أَنِ
يَسْتَبْدِلَ لَهَا بِأُخْرَى الَّتِى هِيَ أَكْثَرُ مَنْفَعَةٍ مِنَ
اْلأُوْلَى أَوْلاَ؟ الجواب: يَحْرُمُ إِسْتِبْدَالُ اْلأَرْضِ
الْمَوْقُوْفَةِ وَيَجُوْزُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ إِنْ كَانَتْ أَكْثَرَ
نَفْعًا إهــ (احكام الفقهاء ج 2 ص 74)
Artinya: Bolehkah bagi pengelola tanah waqafan untuk masjid, menukar tanah tersebut dengan tanah lain yang lebih banyak manfa’atnya? Jawab “Haram menukar barang atau tanah waqaf. Dan menurut madzhab hanafiyah boleh menjualnya jika lebih banyak manfa’atnya”.
Uang Kotak Amal
Apakah uang hasil dari kotak amal jariyah di masjid-masjid itu termasuk barang wakaf?
Uang
dari hasil kotak amal bukan termasuk barang wakaf, karena uang tersebut
tidak termasuk dalam kategori barang yang boleh diwakafkan, yakni tidak
Baqa’ul ‘Ain (habis setelah dibelanjakan), juga tanpa adanya sighat wakaf. Sebagaimana keterangan sebagai berikut ini:
وَالْوَقْفُ
جَائِزٌ بِثَلَاثَةِ شَرَائِطَ وَفِى بَعْضِ النُّسَخِ اَلْوَقْفُ جَائِزٌ
وَلَهُ ثَلَاثَةُ شُرُوْطٍ اَحَدُهَا اَنْ يَكُوْنَ الْمَوْقُوْفُ مِمَّا
يُنْتَفَعُ بِهِ مَعَ بَقَاءِ عَيْنِهِ (فتح القريب هامش الباجورى ج 2 ص 42 )
وَاِنْ مَلَكَ لِاَجْلِ الْاِحْتِيَاجِ اَوِ الثَّوَابِ مِنْ غَيْرِ الصِّيْغَةِ كَانَ صَدَقَةً فَقَطْ (اعانة الطالبين ج 3 ص 144)
وَالْمُرَادُ
بِالْمَالِ الْمُعَيِّنَةِ بِشَرْطِهَا الاَّتِىْ غَيْرُ الدَّرَاهِمِ
وَالدَّنَانِيْرِ لِاَنَّهَا تَنْعَدِمُ بِصَرْفِهَا فَلَايَبْقَى لَهَا
عَيْنٌ مَوْجُوْدَةٌ ( اعانة الطالبين ج 3 ص 157 )
Kewenangan Takmir
Takmir
adalah orang yang mengabdikan dirinya untuk merawat masjid dan melayani
kebutuhan orang yang ada kaitannya dengan fasilitas masjid demi
kenyamanan para jama’ah dalam melaksanakan ibadah, sehingga dibutuhkan
tenaga takmir secara rutin untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang
diperlukan dalam masjid, maka dari itu sudah layak kalau takmir masjid
mendapatkan bisyarah dari kinerjanya tersebut. Bagaimana hukum takmir
masjid yang mengeluarkan uang masjid untuk kepentingan bisyarah ta’mir
atau nadhir?
Jawaban permasalahan ini ditafsil sebagai berikut:
a. Tidak boleh, jika tidak mendapat izin dari hakim atau masyarakat.
وَاَلَّذِي يَظْهَرُ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ لِلنَّاظِرِ أَنْ يَسْتَقِلَّ بِأَخْذِ ما شُرِطَ لَهُ
( الفتوى الكبرى الفقهية ج 3 ص 278 )
b. Boleh, jika jumlahnya di bawah upah minimum/shadaqah.
وَاَفْتىَ ابْنُ الصَّباَغِ بِاَنَّهُ اَلْاِسْتِقْلَالُ بِذَالِكَ مِنْ غَيْرِ الْحَاكِمِ ( قَوْلُهُ اَلْاِسْتِقْلَالُ بِذَالِكَ ) اَىْ بِأَخْذِ الْاَقَلِّ مِنْ نَفَقَةٍ وَاُجْرَةِ مِثْلِهِ ( اعانة الطالبين ج 3 ص 186)
Uang Masjid Untuk Bisyarah Khatib Shalat Jum’at
Bagaimana hukum membelanjakan uang dari kotak amal jariyah masjid untuk kebutuhan finansial, (misal, untuk bisyaroh khatib).
Boleh
mengalokasikan sebagian hasil kotak amal jariyah masjid untuk orang
yang berkhotbah (khatib) yang bersangkutan, karena hal ini termasuk
membelanjakan untuk kepentingan masjid, seperti membeli lampu, membayar
biaya listrik, pengeras suara, dan lain sebagainya.
(مَسْأَلَةٌ
: ي) : لَيْسَ لِلنَّاظِرِ الْعَامِ وَهُوَ الْقَاضِيُّ أَوِ اْلوَالِيُّ
النَّظِرِ فِيْ أَمْرِ الْأَوْقَافِ وَأَمْوَالِ الْمَسَاجِدِ مَعَ
وُجُوْدِ النَّاظِرِ الْخَاصِّ الْمُتَأَهِّلِ ، فَحِيْنَئِذٍ فَمَا
يَجْمَعُهُ النَّاسُ وَيُبْذِلُوْنَهُ لِعِماَرَتِهَا بِنَحْوِ نَذَرٍ أَوْ
هِبَةٍ وَصَدَقَةٍ مَقْبُوْضِيْنَ بِيَدِ النَّاظِرِ أَوْ وَكِيْلِهِ
كَالسَّاعِي فِي الْعِمَارَةِ بِإِذْنِ النَّاظِرِ يَمْلِكُهُ الْمَسْجِدُ ،
وَيُتَوَلَّى النَّاظِرُ اَلْعِمَارَةَ بِالْهَدْمِ وَالْبِنَاءِ
وَشِرَاءِ اْلآلَةِ وَاْلاِسْتِئْجَارِ ، (بغية المسترشدين ص 65 )
Menghiasi Masjid
Seringkali
kita menemukan hiasan-hiasan di dinding masjid seperti hiasan yang
berbentuk kaligrafi yang sengaja dibuat atau ditempel untuk menghias dan
menambah keindahan masjid, akan tetapi sangat disayangkan terkadang
dalam kondisi shalat mata kita tanpa sengaja terpesona melihat hiasan
tersebut sehingga membuat konsentrasi pikiran dan kekhusyukan hati
menjadi terganggu. Dari fenomena tersebut, bagaimanakah hukum menghiasi
masjid?
a. Makruh, apabila hiasan tersebut dapat mengganggu kekhusyukan orang yang shalat.
b. Boleh, apabila hiasan tersebut tidak mengganggu kekhusyukan orang yang shalat. Keterangan kitab al-Majmu’ juz 3 hal. 180:
وَيُكْرَهُ
زُخْرِقَةُ الْمَسْجِدِ وَنَقْشُهُ وَتَزِيْنُهُ لِلْاَحاَدِيْثِ
الْمَشْهُوْرَةِ وَلِأَنَّهُ لاَتَشْتَغِلُ قَلْبَ الْمُصَلِّى اَلنَّاسُ
اهـ ( المجموع شرح المهذب جز 3 ص 180 )
Menghiasi masjid hukumnya makruh, karena bisa mengganggu ketenangan orang shalat. (al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, juz III, hal. 180)
Hukum
boleh dalam masalah ini, diambil dari mafhum mukhalafah dalil di atas
yaitu: Apabila hiasan untuk masjid tidak mengganggu orang yang shalat
maka hukum menghiasi masjid adalah boleh.
Hukum Makan di Dalam Masjid
Di kalangan warga nahdliyin
berkembang beberapa budaya yang sering dilakukan, seperti halnya
selamatan, tasyakuran dalam rangka memperingati maulid nabi Muhammad
Saw. (mauludan) dan acara-acara yang lain. Dalam hal ini masjid sering
dipilih sebagai tempat untuk melaksanakan acara tersebut, sehingga
setelah acara selesai, para jama’ah menyajikan makanan dan minuman lalu
mereka menyantapnya di dalam masjid. Bagaimanakah hukum makan dan minum
di dalam masjid?
a. Tidak boleh, apabila berkeyakinan atau mempunyai perkiraan akan mengotori masjid.
b. Boleh, dengan syarat tidak sampai mengotori masjid.
واَلتَّضَيُّفُ
فِى الْمَسْجِدِ الْباَدِيَةِ يَكُوْنُ بِاِطْعاَمِ الطَّعَامِ النَّاشِفِ
كَالتَّمْرِ لاَ اِنْ كَانَ مُقَذِّرًا كَالطَّبْحِ وَالبِطِّيْحِ
وَاِلاَّ حَرُمَ اِلاَّ بِنَحْوِ سُفْرَةٍ تُجْعَلُ تَحْتَ اْلاِنَاءِ
بِحَيْثُ يَغْلِبُ عَلَى الظَّنِّ عَدَمُ التَّقْذِيْرِ فَالظَّاهِرُ
اَنَّهُ يَقُوْمُ مَقَامَ النَّاشِفِ (فتاوى العلامة الشيخ حسين ابراهيم
المقري فى فصل أحكام المساجد )
Penjamuan
dalam masjid di pedesaan dengan menyuguhkan makanan kering seperti
kurma hukumnya boleh, dan diharamkan jika bisa mengotori masjid seperti
makanan basah semisal semangka, kecuali jika menggunakan alas (bejana)
yang sekiranya kuat dugaan tidak akan mengotori masjid. Dalam hal ini
sama dengan makanan yang kering (hukumnya boleh). (Fatawi al-Allamah al-Syaikh Husain Ibrahim al-Muqarri dalam Fasal Ahkami al-Masajidi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar