Berkumpul melakukan do’a bersama antar umat beragama,
seperti yang telah dipelopori oleh Kyai Sholeh Bahruddin, beliau mengumpulkan
tokoh-tokoh dari 6 agama yang berada di Indonesia, baik dari Islam, Kristen, Katolik,
Hindu, Budha, dan Konghucu, mereka semua berkumpul di Ponpes Ngalah dan berdo’a
bersama. Bagaimanakah pandangan agama?
Dalam hal ini, terjadi beberapa pendapat di kalangan ulama’:
a.
Tidak
boleh, karena do’anya non muslim tidak diterima serta dilarangnya tawasul
dengan mereka. Diambil dari keterangan Kitab Hasyiyah al-Jamal:
لاَيَجُوْزُ اَلتَّأْمِيْنُ عَلىَ الدُّعاَءِ
الْكاَفِرِ ِلاَنَّهُ غَيْرُ مَقْبُوْلٍ لِقَوْلِهِ تَعَالَى وَماَ دُعَاءُ اْلكاَفِرِيْنَ
اِلاَّ فِىْ ضَلاَلٍ (حاشية الجمل ج2 ص 119)
Dan tidak boleh mengamini do’a orang kafir karena do’anya
tidak diterima sesuai dengan firman Allah Swt. dan do’a (ibadah) orang-orang
kafir itu, hanya sia-sia belaka. (Hasyiyah
al-Jamal, Juz II, hal. 119)
Dan sebagaimana yang telah dikatakan oleh Imam al-Rauyani
dalam kitab Mughni al-Muhtaj:
لاَ يَجُوْزُ
اَنْ يُّؤَمِّنَ عَلَى دُعَائِهِمْ كَمَا قَالَهُ اَلرُّوْياَنِىْ لِأَنَّ دُعاَءَ
الْكاَفِرِ غَيْرُ مَقْبُوْلٍ (مغني المحتاج باب صلاة الاستسقاء , ج 1 ص 438)
Tidak boleh mengamini do’a mereka (orang kafir)
sebagaimana pendapat yang dianut oleh Imam al-Rauyani, karena do’a mereka tidak
akan diterima. (Mughni al-Muhtaj,
bab Shalat Istisqo’ juz I, hal.438)
وَيُكْرَهُ إِخْرَاجُ اْلكُفَّارِ ِللْإِسْتِسْقاَءِ
لِأَنَهُمْ اَعْداَءُ اللهِ فَلاَ يَجُوْزُ اَنْ يَتَوَسَّلَ بِهِمْ إِلَيْهِ فَإِنْ
حَضَرُوْا وَتَمَيَّزُوْا لَمْ يُمْنَعُوْا ِلأَنَّهُمْ جَاءُوْا فِيْ طَلَبِ الرِّزْقِ. (المجموع ج 5 ص 69)
Dimakruhkan keluarnya orang-orang kafir untuk ikut shalat
istisqo’ (meminta hujan) mengingat mereka adalah musuh-musuh Allah, maka tidak
diperkenankan untuk bertawassul dengan mereka. Jika mereka ikut hadir dan
keberadaan mereka berbeda dengan umat Islam, maka mereka tidak perlu dilarang
karena mereka datang untuk mencari rizqi. (al-Majmu’, juz V, hal.69)
b. Makruh,
jika perkumpulan tersebut berada di dalam musholla/masjid apalagi berbaurnya
tersebut dilandasi hanya sekedar berkumpul tanpa ada tujuan yang positif.
(
وَلاَ يَخْتَلِطُوْنَ ) أَهْلُ الذِّمَّةِ وَلاَ غَيْرُهُمْ مِنْ سَائِرِ الْكُفَّارِ
( بِناَ ) فِيْ مُصَلاَّناَ وَلاَ عِنْدَ الْخُرُوْجِ أَيْ يُكْرَهُ ذلِكَ بَلْ يَتَمَيَّزُوْنَ
عَناَّ فِيْ مَكاَنٍ لِأَنَّهُمْ أَعْدَاءُ اللهِ تَعَالَى إِِذْ قَدْ يَحُلُّ بِهِمْ
عَذَابٌ بِكُفْرِهِمْ فَيُصِيْبَناَ (مغنى المحتاج. ج 1 ص 323)
Orang kafir, baik dzimmi maupun orang kafir selain dzimi,
itu tidak diperbolehkan menjadi satu majlis peribadatan kita, demikian halnya
ketika kita keluar. Percampuran tersebut makruh, dan mereka harus berbeda
dengan kita umat islam ketika berada dalam suatu tempat. Hal ini karena mereka
musuh-musuh Allah Swt. yang suatu saat mereka akan ditimpa suatu adzab dengan
kekufuran mereka itu dan adzab tersebut akan mengenai kita pula. (Mughni al-Muhtaj, juz I, hal.323)
قَوْلُهُ : ( تَحْرُمُ مَوَدَّةُ الْكَافِرِ
) أَيْ الْمَحَبَّةُ وَالْمَيْلُ بِالْقَلْبِ وَأَمَّا الْمُخَالَطَةُ الظَّاهِرِيَّةُ
فَمَكْرُوهَةٌ. (البجيرمي
على الخطيب ج 4 ص 291)
Haram mencintai orang kafir yakni adanya rasa suka dan
kecenderungan hati kepadanya. Sedangkan sekedar bergaul secara lahir saja maka
hukumnya makruh. (Al-Bujairami ‘ala al-Khatib, juz IV, hal.291)
c. Boleh, mengamini atau memimpin do’a bersama
non muslim bahkan sunnah jika caranya tidak bertentangan dengan syari’at Islam dan
isi do’anya memohon hidayah, pertolongan dan menjalin hubungan baik di dunia
serta bermanfaat demi kemaslahatan umat atau untuk mencegah timbulnya sesuatu
madharat yang tidak diinginkan.
وَالْوَجْهُ جَوَازُ التَّأْمِيْنِ بَلْ
نَدْبُهُ إذَا دَعَا لِنَفْسِهِ بِالْهِدَايَةِ وَلَنَا بِالنَّصْرِ مَثَلًا. (تحفة المحتاج في شرح المنهاج باب صلاة
الاستسقاء الزء 3 ص 553) .
Menurut salah satu pendapat: Boleh mengamini do’a orang
kafir, bahkan sunnah jika ia berdo’a agar dirinya mendapatkan hidayah dan kita
mendapatkan pertolongan. (Tuhfah Al-Muhtaj
Fii Syarhi al-Minhaj bab shalat istisqo’ juz 3 hal. 553)
Keterangan
yang sama terdapat dalam kitab Hasyiyah al-Jamal,
juz II, hal.119)
وَثاَنِيْهَا (اَلْمُخَالِطَةُ)
اَلْمُبَاشَرَةُ بِالْجَمِيْلِ فِى الدُّنْياَ بِحَسَبِ الظَّاهِرِ وَذلِكَ غَيْرُ
مَمْنُوْعٍ (تفسير
المنير ج 1 ص 94)
Yang kedua, tidak dilarang untuk bergaul (dengan
orang-orang kafir) dengan pergaulan yang baik di dunia. (Tafsir Munir Lin Nawawi, juz I, hal.94)
أَمَّا مُعَاشَرَتُهُمْ لِدَفْعِ ضَرَرٍ
يَحْصُلُ مِنْهُمْ أَوْ جَلْبِ نَفْعٍ فَلَا حُرْمَةَ فِيهِ ا هـ ع ش عَلَى م ر .(البجيرمي
على الخطيب ج 4 ص 291)
Adapun bergaul dengan mereka untuk mencegah timbulnya
madlarat yang mungkin dilakukan oleh mereka, ataupun mengambil sesuatu manfaat
dari pergaulan tersebut, maka hukumnya tidak haram. (Al-Bujairami ‘ala
al-Khatib, juz IV, hal.291)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar