Takbiratul ihram merupakan salah satu rukun dari rukun-rukun shalat. Takbiratul ihram harus menggunakan lafadz Allahu Akbar,
dan cara melafalkannya harus sesuai kaidah yang telah ditentukan,
seperti ketika membaca lafadz takbiratul ihram tidak boleh memanjangkan
huruf alif pada lafadz Allah dan tidak memanjangkan huruf ba’ (ب) pada lafadz Akbar.
Namun permasalahan yang terjadi di masyarakat Islam, ada sebagian orang
ketika mereka shalat, dalam membaca takbiratul ihram, ketika membaca
lafadz Allah mereka memanjang-kannya. Dari permasalahan
tersebut, bagaimanakah hukumnya me-manjangkan lafadz Allah ketika
takbiratul ihram dalam shalat?
Menurut Imam Ali Syibramulisy hukum memanjangkan bacaan pada lafadz Allah ketika takbiratul ihram ialah:
- Tidak boleh, apabila panjang bacaannya melebihi 7 alif atau 14 harakat (14 ketukan).
- Boleh, membaca panjang dengan panjang maksimal 7 alif atau 14 harakat, pendapat ini adalah pendapat yang mendekati kebenaran sebagaimana yang telah dinukil oleh ulama’ ahli qurra’ seperti Imam Ibnu Hajar:
(قَوْلُهُ: وَكَذَا زِياَدَةُ
مَدٍّ إلخ) أَيْ وَكَذَا يَضُرُّ زِياَدَةُ مَدِّ اْلأَلِفِ اَلْكاَئِنَةِ
بَيْنَ اللاَّمِ وَالْهَاءِ إِلَى حَدٍّ لاَ يَقُوْلُ بِهِ أَحَدٌ مِنَ
الْقُرَّاءِ. قاَلَ ع ش: وَغاَيَةُ مِقْدَارِ مَا نُقِلَ عَنْهُمْ - عَلَى
ماَ نَقَلَهُ اِبْنُ حَجَرٍ - سَبْعُ أَلِفَاتٍ، وَتُقَدَّرُ كُلُّ أَلِفٍ
بِحَرَكَتَيْنِ، وَهُوَ عَلَى التَّقْرِيْبِ اهـ (حاشية إعانة الطالبين، ج
1، ص 156)
(Perkataan mushannif
“Begitu juga menambah panjang”) yaitu begitu juga berbahaya menambah
panjang alif yang berada diantara lam dan ha’, sampai batas yang tidak
pernah diucapkan oleh seorang pun dari para ahli qira’ah. Imam Ali
Syibramulisy berkata “Maksimal ukuran panjang yang dinukil dari para
ahli qurra’ sebagaimana yang telah dinukil oleh Imam Ibnu Hajar adalah
tujuh alif dan setiap alif ukurannya adalah dua harakat, dan itu adalah
pendapat yang mendekati kebenaran”. (Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz 1, hal. 156)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar