TEMA PEMAHAMAN MAKNA IBADAH MENUJU HAJI MABRUR
الحمد
لله . الحمد لله الّذى دعاعباده ا لأبر ار. الى أشرف بيت وأعظم مز ار. ويحطّ عنهم
الذّ نوب وا لأوز ار. احمده ان جعل الحجّ فى العمر مرّة من غير تـكر ار. وأشهد أن لااله الاّ الله وحده لاشريك
له الملك الرحيم الغـــفّار . شـــهادة أسّــسّ عليــها اللبيت ذاا لأ ستار. واشهد
أنّ سيّدنا محمّدا عبده ورسوله أفضل من قلّد الهدى وسنّ ا لأ شعار. اللّهمّ صلّ
وسلّم وبارك على سيّدنا محمّد وعلى اله وأصحابه البررة ا لأ طهار. (امّا بعـــــد) فيا
أيّهـــاالنّـــاس إتّقوا الله تعالى
فقد نودى بالحجّ فأين المشتاق. فقد قال الله
تعالى فى القــــر آن العظــــيم.
اعوذ بالله من الشّيطان الرّجيم. بسم الله الرّ
حمن الرّ حيم. ولله على النّاس حجّ البيت من اســـــــتطاع اليه ســـــبيلا. ومن
كـــفر فإنّ الله غنى عن العالمـــين.
HADIRIN SIDANG JUM’AH YANG DIMULYAKAN ALLAH
........
Dengan penuh kekhusu’an,
kethawaddhu’an dan terpusatnya konsentrasi alam pikiran kita, marilah
kita senantiasa mengistiqomahkan keimanan dan ketaqwaan kita – yang memang
kadangkala bertambah dan berkurang ini dengan terus melaksanakan apa yang
menjadi perintah Allah dan rasul-Nya, dan menjauhi sekaligus membenci apa yang
menjadi cegahan dan larangan-Nya.
Rasa syukur yang paling
dalam juga kita curahkan kehadirat llahi Rabbi yang telah menganugerahkan aneka
ragam kenikmatan-Nya, dimana kita merasakan betapa hati nurani ini begitu
tumpul, rasio dan akal kita begitu picik dan keras sehingga kita tidak mampu
menghitung secara kwantitatif semua nikmat dan anugerah Allah Ta’ala itu, atau
bahkan mengkufurinya ! Na’udzu billahi min dzalika.
HADIRIN SIDANG JUM’AH RAHIMUKULULLAH........!
Ketahuilah bahwa
sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala telah mencanangkan dan membangun
pilar-pilar agama Islam itu di atas beberapa rukunnya yang lima, yaitu :
شهادة
أن لا اله ا لاّ الله وحده لا شر يك له
وانّ محمّدا عبده ورسوله رحمة لّلعالمين. واقام الصّلاة. وايتاء الزّ كاة. وصوم رمضان وحجّ البيت من اســتطاع اليه
سبيلا . فمن اتى بهنّ كـــاملات فقد اســتكمل ا للإ يمان. ومن انتقص واحد منهن
فبحق ربّه استهان.
“Mengucapkan syahadat / persaksian bahwa
tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah yang maha esa yang tiada
sekutu bagi-Nya. dan sesungguhnya Nabi Muhammad saw adalah hamba-Nya yang
diutus untuk memberikan rahmad kepada seluruh alam. Menjalankan ibadah sholat,
membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menunuaikan ibadah haji bagi
yang berkemampuan”. Barang siapa yang menjalankan kesemuanya dengan penuh
kesempurnaan, maka sungguh telah sempurnalah keimannannya. Dan barang siapa
mengurangi salah satu saja dari padanya maka sesungguhnya ia telah merendahkan
haq-haq Tuhannya”.
Menyadari tentang hal
ini, sejak sebulan yang lalu Allah Swt. telah membuka bulan-bulan haji-Nya
dengan bulan Syawal. Di bulan Dzulo’dah ini, sebagaimana lazimnya
saudara-saudara kita ini yang hendak menunaikan ibadah hajinya tengah
mempersiapkan diri untuk keberangkatannya. Apakah yang mesti kita persiapkan
........ ?
HADIRIN SIDANG JUM’AH YANG BERBAHAGIA ..........
Di musim Haji seperti
ini, lalu kita teringat pada sebuah sabda Rasulillah Saw yang berbunyi :
ألعمرة
الى العمرة كفّارة لما بينهما والحجّ المبرورليس له جزاء الاّ الجنّة
Artinya : “Menunaikan Umroh hingga
pelaksanaan yang berikutnya adalah menjadi Kafarot / pelebur segala dosa yang
ada diantara keduanya, dan haji yang mabrur tak ada balasannya yang lebih tepat
kecuali Surga”.
Urusan Haji, memang
merupakan masalah yang unik. Banyak orang yang
hanya memandangnya sebagai salah satu rukun Islam atau kewajiban bagi
Muslim yang mampu. Ada pula yang memandangnya sebagai semata-mata anugerah dari
Allah atau panggilan Nabi Ibrahim As. Mereka yang memandang haji sebagai
anugerah atau panggilan nabi Ibrahim, umumnya beranggapan bahwa Haji hampir
tidak ada kaitannya dengan kemampuan.
Keyakinan semacam ini
kemudian terkukuhkan oleh realita / kenyataan yang ada bahwa : “Siapa saja,
asal sudah mendapat panggilan dari nabi Ibrahim, melaratpun orang akan naik
haji; sebaliknya kalau masih belum mendapat panggilan dari bapaknya para nabi
itu, orang kayapun tidak akan berangkat”.
Adapun bagi mereka yang
memandang haji sebagai cita-cita hidup, umumnya Haji merupakan cambuk pendorong untuk giat bekerja dan menabung.
Mereka bekerja dan menabung, sampai terwujud apa yang mereka cita-citakan itu.
Apapun pandangan
seseorang tentang ibadah haji, yang jelas seyogyanya kita memanjatkan do’a
kebaikan untuk saudara-saudara kita yang akan menunaikannya :
اللّهمّ
اجعل حجّناحجا مبرورا وسعيا مشكورا وذنبا مغفورا وتجارة لن تبورا
“Allahhumma Yaa Allah Yaa Tuhan Kami,
jadikanlah mereka yang menunaikan haji menjadi haji-haji yang mabrur,
perjalanan yang penuh rasa syukur, dosa-dosa yang terampuni, dan perdagangan
yang tiada kerugian”.
Tetapi perlu diingat,
bahwa kata sementara orang arif, do’a semacam ini ‘hanyalah penaka minyak
pelumas’ bagi melicinkan jalannya roda ibadah dan amaliyah menuju tujuannya
yakni penerimaan Allah dan ridloNya. Maka menurut pemahaman ini, pelumas saja
tentulah tidak cukup, apalagi tanpa roda, sama sekali. Sedangkan ada roda
itupun masih diperlukan pengetahuan bagaimana cara menjalankannya, dan
kesesuaian praktik menjalankannya dengan pengetahuan.
HADIRIN SIDANG JUM’AH RAHIMAKUMULLAH . . . . .!
Dalam kaitannya dengan
ibadah haji, disamping pelaksanaan rukun-rukunnya, kebenaran dan keihlasan niat
merupakan komponen ‘rodanya’ yang sangat penting dan menentukan. Sebab tanpa
niat tak ada ibadah. Dan mereka yang berhaji bahkan beramal apa saja akan
mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan niat-Nya.
إنّما
ا لا عـــــمال بالنّـــــيّات. وانّما لـــكلّ امرء مانوى
“Sesungguhnya sah dan sempurnanya setiap
bentuk amal apapun adalah tergantung beberapa niatnya, dan bagi setiap
personalnya akan mendapatkan apa yang diniatkan”.
Lebih lanjut itu artinya
: mereka yang berhaji dengan niat memperoleh julukan haji, akan mendapatkan
julukan itu. Mereka yang bertujuan melaksanakan rukun Islam, akan terbebas dari
tuntutan kewajiban rukun kelima ini. Mereka yang berniat mendapatkan haji
mabrur akan mendapatkannya. Mereka yang semata-mata ingin memperoleh ridlo
Allah, akan memperolehnya. Demikian seterusnya. Dan dari niat ini pulalah, akan
tercermin sikap masing-masing yang bersangkutan dan akan tumus / meresuk dalam
prilakunya kemudian.
Niat yang benar dan
ikhlas akan menuntun seseorang yang melaksanakan ibadah kepada jalannya yang
lurus dan benar, dan diperjalanan ibadahnya tidak terbelokkan oleh nafsu dan
keadaan yang menyesatkan. Sebaliknya niat yang tidak benar atau kurang ikhlas
akan dengan mudahnya dibelokkan menjadi sebuah kepentingan untuk mencari
kepuasan diri sendiri (meskipun kepuasan diri sendiri itu adalah kepuasan
melaksanakan ibadah)
Tentu saja disamping niat
yang benar dan ikhlas, masih diperlukan pengetahuan dan pemahaman terhadap
ibadah yang dilaksanakan itu sendiri. Karena tanpa ilmu bagaimana orang dapat
beramal dengan baik ? menulis risalah saja, bila tanpa di-ngelmuni akan hanya menyia-nyiakan kertas. Teringatlah
kita pada statemen atau pernyataan Imam Syafi’i RA :
من
أراد الدّنيا فعــليه بالعــــلم. ومن أراد ا لأ خرة فعـــليه بالعـــــلم . ومن
ارا دهما فعــليه بالعــــلم.
Artinya
: “Barang siapa menginginkan dunia, dia harus berilmu. Siapa
menginginkan akherat, dia harus berilmu, dan siapa menginginkan dunia dan
akherat, dia juga harus berilmu”.
Sebagai akhir dari khutbah ini, marilah
kita memanjatkan do’a “Mudah-mudahan tidak ada diantara saudara-saudara kita
yang sepulang dari ibadah hajinya tidak menjadi lebih baik dan justru perilaku
dan ibadahnya lebih buruk dari sebelumnya, sebab alangkah sia-sia dan sayangnya
jika kita telah bersusah payah mengorbankan banyak hal seperti harta, tenaga
dan fikiran ; tahu-tahu haji kita tidak diterima Tuhan. Na’udzubillahi
Min Dzalika.
Tentulah bukan karena kita tidak mendo’akan
kemabruran hajinya atau do’a kita tidak mustajab ! tapi entah teruskan sendiri
. . . . . !
أعوذ
بالله من الشّيـــطان الرّ جـــيم . بســم الله الــرّ حمن الرّ حــيم. وأذّن فى
النــّاس بالــحجّ يأتوك رجــا لا وعلى كـلّ ضامر يأتين من كلّ
فجّ عميق. بارك الله لى ولكم فى القر آن العظيم.
ونفعني واياكم بما فيه من الآيات
والذكر الحكيم . انه هو السميع
العـــليم . واســــتغفروا الله العظـــيم لى ولكم فيا فوز المســتغفر ين ويانجـــــــاة
الـــــــتّائبين.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar