TEMA MEMAHAMI HAKIKAT PERJUANGAN HIDUP MELALUI HIKMAH HIJRAH
ألحمدلله. ألحمدلله
الذى قسم الزمان اعواما. وقسم الاعوام شهورا وأيّاما. على ما اقتضته
الحكمة والتدبير .وافتتح كل عام بشهره
المحرّم. وجمله بيوم عاشوراءالمعظّم. الّذى فضّله
فىالجاهليّة والاسلام. أحمده
سبحانه وتعالى واشكروه. واتوب اليه واستغفروه . واشهد ان لااله الاّ الله
وحده لاشر يك له شهادة تنجى قائله يوم الزّحان. واشــهد انّ ســيّدنا محمّداعــبده
ورســوله ســيّد الأنام. اللهمّ صلّ وسلّم
على ســيّدنا مـحمّد ا لّذي انقذنا من الظّلام. وعلى اله وصحبه الكرام . (امّا بعد) فياعــبادالله, اتّقواالله حقّ تقاته ولاتموتنّ الاّ وأنـتـم مسـلمون. فقد
قال الله تعالى فىالقرأن العظيم. اعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن
الرحيــم. ألا يعلــم من خلق وهو اللطــيف الخبــير.
Marilah
kembali kita pertebal dan kita pupuk keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah
SWT. dengan memahami hakekat perjuangan hidup kita dan dengan segala tanggung
jawabnya.
Karena
hanya dengan bekal keimanan dan ketaqwaan itulah kita dapat menapaki proses
kehidupan kita saat ini di dunia dan kelak di akhirat.
Muhammad
Rasyid Ridho
dalam ‘Tafsir Al – Manar ‘
menulis : “Keimanan membangkitkan sinar dalam akal, sehingga merupakan
petunjuk jalan ketika berjumpa dengan gelap keraguan. Dengan keimanan inilah
seseorang akan memperoleh buahnya yakni taqwa yang berarti menjaga tata krama
syari’at, dengan landasan keikhlasan melaksanakan segala perintah Allah dan
menjauhi segala larangannya.
HADIRIN
SIDANG JUM’AH RAHIMAKUMULLAH ..........
Apa
sebenarnya arti “HIDUP” menurut pandangan agama .........? Hidup
bukanlah sekedar menarik dan menghembuskan nafas. Ada orang-orang yang telah
terkubur, tetapi oleh Al Qur’an masih dinamai “Orang hidup dan mendapat rizqi”
sebagaimana disebutkan di dalam Firman Allah Ta’ala :
ولا تحسبنّ الذّى
قتلوا فى سبيل الله أمواتا.بل أحيآء عند ربّهم
يرزقون
Artinya : “Janganlah kamu mengira bahwa
orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi
Tuhannya dengan mendapat rizqi.”
Dan
lebih lanjut Allah menegaskan :
يستبشرون بنعمة من
الله وفضل وأنّ الله لا يضيع
أجـرالمؤمنـين
Artinya : “Mereka bergirang hati dengan
nikmat dan karunia besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-menyiakan
pahala orang-orang yang beriman.” (QS.
Ali ‘Imran : 169 dan 171)
Sebaliknya,
ada pula orang yang menarik dan menghembuskan nafas, namun dianggap sebagai
orang-orang mati. Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Allah dalam firmannya
:
وما يستوى الاعمى
والبصير ولاالظّلمت ولاالنور ولاالظّل ولاالحرور ومايستوى الأحيآء ولاالاموات انّ
الله يُسمع من يشآء وما انت بمُسمع من فىالقبور.
Artinya : “Dan tidaklah sama orang yang
buta dengan orang yang melihat. Dan tidak pula sama gelap gulita dengan cahaya.
Dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas..... Dan tidaklah sama
antara orang-orang yang hidup dengan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah
memberikan pendengaran kepada siapa saja yang dikehendaki Nya. Dan kamu
(Muhammad) sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang-orang yang di dalam
kuburnya dapat mendengar.” (QS. Faathir : 19 – 22).
Dari
sini dapatlah kita pahami bahwa : “hidup dalam pandangan agama” adalah :
kesinambungan dunia dan akherat dalam keadaan bahagia, kesinambungan
kebahagiaan yang hingga melampui usia
dunia ini. Dengan demikian tiadalah arti hidup bagi seseorang, apabila
ia tidak menyadari bahwa ia mempunyai kewajiban-kewajiban yang lebih besar dan
yang melebihi kewajiban-kewajibannya hari ini. Setiap orang yang beriman wajib
mempercayai dan menyadari bahwa disamping wujudnya masa kini, masih ada lagi
wujud yang lebih kekal abadi dan lebih berarti daripada kehidupan dunia ini.
HADIRIN
SIDANG JUM’AH YANG BERBAHAGIA . . . .
Setiap
pekerjaan yang dilakukan seseorang pasti mempunyai “Motivasi atau dilandasi oleh niat”. Hal ini
pernah ditegaskan oleh nabi Muhammad Saw., ketika seorang sahabatnya hijrah ke
Madinah : “Setiap pekerjaan harus atau pasti disertai niat. Maka, barang
siapa hijrahnya didorong karena Allah, hijrahnya akan dinilai demikian. Dan
barang siapa hijrahnya didorong oleh keinginan memdapat keuntungan duniawi atau
karena ingin mengawini wanita, maka hijrahnya dinilai sesuai dengan tujuan
tersebut”.
Ketika
nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabat beliau berhijrah, motivasi mereka yang
utama adalah guna memperoleh ridlo Allah SWT, yang mereka yakini Maha Kuasa
lagi Maha Bijaksana.
Menjelang
hijrah kaum Muslimin berada pada posisi yang sangat lemah dan teraniaya. Namun
dengan tebalnya keimanan, dengan bekal keimanan keyakinan akan datangnya
kemenangan tidaklahpernah sirna. itu pulalah yang mengantarkan mereka pada
sikap optimis dan patriotisme. Oleh karenanya kita dapat mengambil pelajaran
hidup dari hikmah Hijrah Nabi ini, yang antara lain adalah :
1.
SIKAP
KESEDIAAN BERKORBAN
Ketika
Rasululloh menyampaikan kepada Abu Bakar ra. bahwa Allah memerintahkannya untuk
berhijrah, dan sekaligus mengajak sahabatnya itu untuk berhijrah bersama, Abu
Bakar ra. menangis kegirangan. Dan seketika itu juga ia membeli dua ekor Unta
dan menyerahkannya kepada Rasululloh saw. agar beliau memilih, mana yang beliau
Nabi kehendaki. Di saat itulah terjadi dialog antara keduanya :
Rasulillah bersabda : “Aku tidak akan mengendarai unta
yang bukan milikku.”
Sahabat
Abu Bakar ra. menimpali; “Unta ini aku serahkan untukmu.” Baiklah aku akan
membayar harganya.“ Kata Nabi.
Setelah
Abu Bakar bersikeras agar unta itu diterima sebagai hadiah, namun Nabi saw.
tetap menolak, akhirnya Abu Bakar – pun setuju untuk menjualnya. Pertanyaannya
kemudian adalah : “Mengapa beliau Nabi Muhammad bersikeras untuk membelinya
......? “Bukankah Abu Bakar sahabat beliau ? Disinilah terdapat suatu pelajaran
yang sangat berharga yakni : Rasululloh saw. ingin mengajarkan bahwa untuk
mencapai suatu usaha besar, dibutuhkan pengorbanan maksimal dari setiap orang.
Beliau bermaksud untuk berhijrah dengan segala daya yang dimilikinya, tenaga,
fikiran, dan materi, bahkan dengan jiwa dan raga beliau. Dan salah satunya
adalah dengan tetap membayar harga onta sahabatnya, Abu Bakar.
Dan
tatkala Rasulillah SAW berangkat ke Madinah, beliau berpesan kepada
kemenakannya “Ali Bin Abi Thalib”, agar ia tidur di tempat pembaringan Nabi
sambil berselimut dengan selimut beliau guna mengelabui kaum Musyrikin. Dengan
kesediaan ini. ‘Ali pada hakikatnya mempertaruhkan jiwa raganya demi membela
agama Allah. Di sini, sekali lagi, kita harus memahami makna, tujuan dab hakekat
dari tujuan hidup kita! Mentoknya ; Inna Ilaa Robbika Al Ruj’aa :
“Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah tempat kami kembali,” Telah siapkah kita
.......?
2.
SIKAP
TAWAKKAL DAN USAHA
Ketika
Rasululloh saw. bersama sahabat Abu Bakar ra. bersembunyi di Gua Tsur dan para
pengejar mereka telah berdiri di mulut gua tersebut, Abu bakar ra. sangat
gentar dan gusar. Lalu rasululloh saw. menenangkannya sambil berkata : Laa takhoofu Wa Laa Tahzanu,
Innalloha Ma’anaa, “Janganlah kuatir dan janganlah bersedih, sesungguhnya
Allah bersama kita.” Keadaan ini bertolak belakang dengan apa yang kemudian
terjadi dalam peperangan Badar, sekitar satu setengah tahun setelah peristiwa
hijrah ini. Ketika itu yang gusar dan kuatir adalah Nabi Muhammad saw., sedang
Abu Bakar ra. yang menenangkan beliau.
Mengapa terjadi dua sikap yang berbeda dari Nabi dan
sahabatnya Abu Bakar ?, Di sini, sekali
lagi kita mendapat pelajaran yang sangat dalam. Dua peristiwa yang berbeda di
atas menuntut pula dua sikap kejiwaan yang berbeda dan keduanya diperankan
dengan sangat jitu oleh Nabi Muhammad saw. Kedua prinsip sebagai hakikat
keagamaan itu adalah : “Tawakkal” dan “Usaha/Taqwa.”
Modus
perbedaan pengambilan keputusan sikap Nabi itu adalah : Bahwa perintah untuk
berhijrah datangnya adalah seketika atau tiba-tiba, oleh karenanya ia harus
dilaksanakan dengan penuh keyakinan, tiada alasan untuk takut, gentar dan
bersedih. Berbeda halnya dengan peperangan. Jauh sebelumnya beliau telah
diperintahkan untuk mempersiapkan diri menghadapi musuh. Sebagaimana terungkap
dalam Firman Allah Ta’ala, (QS. Al-Anfal ayat : 60)
وأعِدّوا لهم
ماستطعتم من قوّة ومن رباط الخيل ترهبون به عدوّالله وعدوّكم. الأية
Artinya : “Dan siapkanlah untuk menghadapi
mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan
untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, dan
musuh kalian semua”.
Kekhawatiran
Nabi ketika itu timbul karena keraguan beliau akan persiapan-persiapan yang
dilakukannya selama ini, jika keraguan itu benar, tentulah beliau menjerumuskan
umat dan sekaligus agama ke jurang yang sangat berbahaya, dengan kekalahan
akibat kurang persiapan. Dan beliau sadar bahwa, dalam hal ini, Tuhan tidak
pilih kasih.
Sebagai
satu kesimpulan, sekali lagi kita mendapat pelajaran tentang arti “TAWAKKAL”,
kapan digunakan dan bagaimana batas-batasnya, serta arti dan pentingnya “USAHA”
sebagai pemenuhan tuntutan ketaqwaan dalam kehidupan ini.
Dan
tentunya masih banyak lagi pelajaran dan hikmah yang dapat dipetik dari
peristiwa hijrah nabi Muhammad Saw sehingga wajar jika sahabat Umar Bin
Khattab menjadikan peristiwa tersebut sebagai awal dari kalender Islam.
Sayangnya kita dan kebanyakan umat banyak yang mengabaikan standart
perhitungan hari, bulan dan tahun
Hijriyyah ini, ironis sekali memang. . . . ? Padahal seharusnya kita bangga dan
berhutang budi untuk mempopulerkannya !
بارك الله لى ولكم فى
القر آن العظيم .ونفعنى و إيا كـم بما فيــه
من ا لأ
يات والذكـر الحكيم . و تقـبل منـى ومنكـم تلاوته إنه هو السميع العليم. واستغفر والله العظيم لي
ولكم . فيا فوز المسـتغفر ين ويا نجـاة التائــبين.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar