TEMA KONTROFERSI MEMBANGUN JIWA
VERSUS
GEBYAR IMING-IMING DUNIA
الحمد
لله. الحمد لله الذى علم الموجود بر حمته. وأفا ض على كل موجـود سـجال نعمـته.
وعـم ا لأ نام ببحـر جـوده وكرامه. سبحان
لا تحصى ثناء عليه . ان ا لا مر كله منه
واليه . احمده سبحانه وتعالى وأشكره . وأتوب اليه وأستغفره . من جميع الذنوب
والمآثم . واشهد ان لا اله إ لا الله
وحده لا شر يك له. شهادة من امن با الله وملا ئكته
وكـتبه ورسـله . واشـهد أن سيـدنا
محـمدا ورسوله النبي الاواه. اللهـم صل
علي سيدنا محــمد وعلى اله وأصحـابه
الطّــيبـين ا لأ خيار. (أما بعد) فيا أيها الناس . إتّقوا الله بإتيان أوامر الله وا لا نتهآء عن المنكر
. وسبحوا الله تسبيحا كثـيرا بالعشـى ولإبكـار . وميزوا الحق عن الباطل بالعلم والعقل وا لأ فكار.
HADIRIN SIDANG JUM’AH RAHIMAKUMULLAH .......
Dengan penuh kesadaran, marilah kita sanjungkan
rasa syukur kita kehadirat Illahi Rabby yang telah senantiasa melimpahkan
rahmad, karunia, dan nikmatnya yang tiada terhingga, hingga kita tak
berkemampuan untuk menghitungnya, dalam rangka membangun “jiwa, hati nurani dan
intuisi/ perasaan kita”.
Disamping itu marilah
kita pertebal keimanan dan ketaqwaan kita, rasa takut kita kepada Allah Swt.
dengan melaksanakan apa yang menjadi perintah-Nya dan mencegah diri dari
perkara-perkara mungkar yang menjadi larangan-Nya. Dengan memperbanyak bacaan
Tasbih “Subhanallah Wal Hamdulillah Wa Laailaa Haillahaa Illallahu Wallahu
Akbar, Laa Haula Walaa Quwwata Illah Billahil ‘Aliyyil ‘Adziim”, kita
berharap muncul pencerahan jiwa dari hati nurani kita, sehingga kita dapat
membenarkan segala perkara yang “Haq” dan membatalkan perkara yang “Bathil”
dengan landasan firman, ilmu pengetahuan dan akal fikiran yang sehat dalam
bingkai “Rasionalitas yang benar”.
HADIRIN SIDANG JUM’AH YANG BERBAHAGIA . . . .
“MEMBANGUN JIWA” pada
hakekatnya adalah merupakan prioritas yang semestinya kita dahulukan dari pada
“MEMBANGUN RAGA” atau “BADAN” kita. Wage Rudolf Supratman dalam lagu
kebangsaan Indonesia Raya menyebutkan ;” Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya,
untuk Indonesia Raya !” begitulah antara lain, kita bangsa Indonesia selalu
menyanyi. Dalam sudut pandang yang lain, jika kita tengok kembali lima tujuan
prinsip dalam pencanangan syari’at Islamiyyah atau yang biasa disebut dengan “Maqaashid
Al-Syari’ah Al-Khams” yaitu memelihara dan memberikan perlindungan –
dalam arti yang luas terhadap agama, akal, jiwa, nasab, (keturunan) dan harta
benda, juga mencerminkan betapa komponen-komponen yang secara bulat berkaitan
dengan aspek-aspek kejiwaan lebih mendapat perhatian yang besar.
Namun entah mengapa, dan
kapan mulainya, tiba-tiba saja kita dan bangsa Indonesia terkesan hanya
mengurusi raga dan melupakan jiwa. Apakah karena terlalu populernya ‘semboyan
olah raga’ “Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat” atau
karena penekanan pembangunan kita yang terlalu bertumpu pada sektor ekonomi ?
mari kita cari jawabannya bersama-sama . . .
!
Jika kita mengkalkulasi
kesibukan dan aktifitas kita sehari-hari; berapa persenkah jatah untuk dan
dalam rangka mengolah jiwa, bila kita bandingkan dengan prosentase bagi
membangun dan memanjakan raga-raga kita ? lihatlah super-super market,
pasar-pasar swalayan, restoran-restoran yang terus tumbuh dan berkembang dan
selalu kita padati demi pemanjaan terhadap raga-raga kita. Saksikanlah pula
iklan-iklan yang setiap saat dijejalkan kerumah-rumah kita melalui telivisi, radio, majalah-majalah dan
lain sebagainya, mulai dari rokok, segala jenis makanan dan minuman, berbagai
jenis pakaian dan perumahan indah, hingga segala macam alat kosmetika dan
penyedap bau badan, yang hampir semuanya menina bobokkan kita sehingga kita
lupa untuk ngopeni kegersangan jiwa kita.
HADIRIN SIDANG JUM’AH YANG DIMULIAKAN ALLAH . . .
.
Dari sinilah terbukti
kiranya kebenaran Al-Qur'an yang menyebutkan bahwa “manusia” menurut
penciptanya sendiri memang menyenangi kehidupan dunia dan cenderung mengabaikan
akhirat. Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur'an :
كلا
بل تحبون العاجلة . وتذرون ا لأ خرة
Artinya
: “Sekali-kali janganlah demikian, Sebanarnya kamu (hai manusia) mencintai
kehidupan dunia, dan meninggalkan kehidupan akherat” (QS. Al-Qiyamah : 20
dan 21)
Bahkan manusia, seperti juga difirmankan penciptanya
Allah Swt. terpedaya dan menganggap baik atas segala kesenangan mereka sendiri.
sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 14 :
زين
للناس حب الشهوات من النسآء والبنين والقناطيرالمقنطرة من الذهب والفضة والخيل
المسومة وا لأ نعام والحرث. ذلك متاع الحياة الدنيا . والله عنده حسن المئاب.
Artinya
: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa
yang diinginkannya yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari
jenis emas, perak, (mas picis – rojobrono), kuda atau mobil pilihan,
binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia,
dan disisi Allahlah tempat kembali yang baik yakni (surga)”.
Semua sifat-sifat
manusia ini, ditambah lagi dengan “perangai-perangai dasar” manusia seperti
kecenderungan mereka untuk berlebih-lebihan, suka segera enak, egois, pelupa
dan lain sebagainya membuat kecenderungan mereka untuk semata-mata menikmati
kesenangan hidup di dunia menjadi semakin total, nyata dan mudah menjadi
keniscayaan. Dan oleh karenanya, tidaklah heran jika kemudian yang terjadi
adalah; budaya-budaya semacam matrealisme, konsumerisme, hedonisme dan lain
sebagainya laku keras dan mendapat antusias lebih dikalangan makhluk yang
bernama “manusia” ini.
Faham-faham inilah, yang
percaya atau tidak menjadikan manusia yang “Ahsani taqwim” ini
menjadi lebih mirip hayawan ternak bahkan lebih rendah daripadanya. Naudzubillahimindzalika....
Sehingga tokoh-tokoh semacam Fir’aun cs, Qorun, Abu Jahal cs dan semisalnya
menjadi idola-idola mereka. Fir’aun yang sampai mengaku menjadi Tuhan dan
membunuhi rakyatnya, qorun yang juga memproklamirkan diri sebagai Tuhan karena
kekayaannya yang dapat menghidupi pengikutnya, Abu Jahal, Abu Lahab dan kaum
jahiliyah yang bangga terhadap berhala dan harta benda, kaum ‘Ad, Tsamud kaum
Sodom dan sebagainya yang angkuh dan tak tahu malu, mereka semua seenaknya
sendiri merampas hak orang lain, tega membunuh saudara sendiri, yang sudah
terhormat masih juga nyolong, yang sudah kaya malah semakin serakah, yang
dengan bangga membabati dan mengeruk kekayaan negara, suami yang tak risih
menjual istrinya, ibu tega menjual diri dan anaknya, mereka yang senang
menjilat yang kuat dan menginjak yang lemah dan seterusnya dan sebagainya, itu
semua tidak lain adalah karena akibat dan gara-gara mengikuti faham-faham di
atas, dan memburu kesenangan-kesenangan duniawi.
Ketika kehidupan
masyarakat kita sudah sedemikian adanya, maka patutlah kiranya kita menyadari
bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan belaka dan sesuatu
yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan serta berbangga-banggaan
tentang banyaknya harta dan anak. Dan kitapun tahu bahwa kehidupan dunia ini
tidaklah lain hanyalah kesenangan yang menipu, dan diakherat nanti ada adzab
yang keras.
HADIRIN SIDANG JUM’AH RAHIMUKUMULLAH. . . .
Bagi umat Rasulillah Saw
yang mengimani hari akhir dan memandang dunia ini hanyalah “Mazratul
Akhirah” (tempat menanam kebaikan akherat), haruslah menyadari bahwa
kecenderungan dari dalam diri dan gebyar iming-iming dari luar yang
menunjangnya adalah merupakan adalah fitnah, ujian dan cobaan.
Tinggal kita kuat
menghadapi cobaan itu atau tidak, bisa lulus ujian atau tidak, itu semua
tentunya sangat tergantung pada sejauhmana kesanggupan dan kemampuan kita untuk
mengendalikan faktor-faktor kecenderungan dan kuatnya godaan dari “dalam”
atau pengaruh kemilau dari “luar”. Kunci suksesnya adalah terletak pada
keberhasilan kita dalam melakukan “olah jiwa” secara terpadu dan kompatibel
atau harmonis. Yaach . . . paling tidak
kita dapat mengimbangi berbagai kecenderungan tersebut dengan “Hasanah
fil akherat”.
Sehubungan dengan hal
itu, ketika kita mengulang-ulang do’a paten “sapu jagad” kita :
ربنا
اتنافى الدنيا حسنة و فى ا لأ خرة حسنة وقنا عذاب النار
Kitapun sadar, bahwa
sesungguhnya kita sedang memohon kesenangan di dunia dan kesenangan diakherat.
Tetapi kitapun harus tahu, bahwa sesungguhnya “Hasanah fid dunya”
yang sering kita artikan dengan bahagia, sejahtera dan senang
sesenang-senangnya di dunia, belum tentu merupakan sarana untuk memperoleh “Hasanah
fil akhirah”, sebab, tentunya tidak bisa disebut “Hasanah fid
dunya” jika mengakibatkan “Sayyi’ah fil akherat”
kesengsaraan dihari kemudian. Jadi do’a ampuh itu, paling tidak menurut saya,
justru untuk menangkal kecenderungan “semata-mata” menikmati kesenangan hidup
di dunia. Walllahu A’lam bis shawab . .. . .Mudah-udahan kita senantiasa
diberi taufiq, dan hidayah oleh Alloh SWT., sehingga kita berkemampuan untuk
menangkal segala godaan baik yang muncul dari dalam diri kita sendiri maupun
dari luar. Amin-Amin yaa rabbal
‘Alamin.
والله
سبحا نه وتعالى يقول وبقول يهتد المهتدون . واذا قر ئ القر آن . فاستمــــــعوا له وأنصـــــــتو ا
لعلكــــم ترحمــون . أعـوذ بالله من الشّيطان الر جيم . بسم الله الرّ حمن الرّ
حيم. من عمل صالحا فلنفسه ومن اسآء فعليها فماربك بضلام للعبيد. بارك الله لى ولكم فى القرأن العظيم ونفعنى وايكم بما فيه
من الايات والذكر الحكيم وتقبل منى ومنكم تلاوته انه هو السميع العليم.
واستغفرواالله العظيم لى ولكم فيافوز المستغفرين
ويانجاة التائبــين
Tidak ada komentar:
Posting Komentar