Kamis, 12 Desember 2013

TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA

Toleransi antar umat beragama merupakan hal yang sangat penting untuk selalu kita bina dan kita lestarikan, karena dengan saling bertoleransi antar sesama dalam kehidupan ini akan tercipta kedamaian dan keharmonisan, tanpa adanya rasa permusuhan dan saling mencurigai. Bahkan Rasulullah sendiripun telah memberi contoh kepada kita semua. Dimana pada masa hidup Rasulullah toleransi antar umat beragama itu beliau gambarkan dalam hubungan jual-beli dan saling memberi dengan non muslim.
Sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab al-Maghazi hadits nomor 4467:

فَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: تُوُفِّيَ النَّبِيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدِرْعَهُ مَرْهُوْنَةٌ عِنْدَ يَهُوْدِيْ بِثَلاَثِيْنَ. يَعْنِي: صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ (كتاب المغازي، رقم الحديث 4467)

Dari Aisyah RA. Dia berkata: Nabi telah wafat sedangkan baju besinya telah diberikan kepada seorang yahudi sebagai gadai dengan 30 sha’ gandum. (Kitab al-Maghazi, hadits nomor 4467)
Selain itu Rasulullah juga tidak enggan untuk menerima hadiah apapun dari umat lain (non muslim). Dan dari situlah para ahli fiqih berpendapat bahwa menerima pemberian hadiah dari semua kelompok baik dari kalangan muslim maupun non muslim bahkan mereka yang memerangi umat Islam sekalipun itu diperbolehkan secara syar’i. Dan hal ini diterangkan dalam kitab al-Mughni juz 13, halaman 200, sebagai berikut:

وَيَجُوْزُ قَبُوْلُ هَدِيَةِ الْكُفَّارِ مِنْ أَهْلِ الْحَرْبِ لِأَنَّ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبِلَ هَدِيَةَ اْلمُقَوْقِسِ صَاحِبِ مِصْرَ (المغني، ج 13، ص: 200)

Boleh menerima hadiahnya non muslim ahli harb, karena Nabi Saw. menerima hadiah dari Makukis penguasa Mesir. (Kitab al-Mughni, Ibnu Qudamah, juz 13, hal. 200)
Selain itu juga, saling memberikan maaf antar sesama merupakan hal yang sangat penting untuk kita lakukan, karena bagaimanpun juga kita sebagai makhluk sosial dalam kehidupan sehari-hari yang selalu berinteraksi dengan banyak orang, tentu kita pernah melakukan kesalahan dan kekhilafan dan yang pasti kita semua saling membutuh-kan satu sama lain, oleh karena itu memberi maaf kepada siapaun saja bahkan terhadap musuh kita yang pernah memerangi kita itupun perlu kita lakukan, sebagaimana teladan yang diberikan Rasulullah Saw. yang telah membebaskan para musuhnya yang telah memerangi beliau hal ini terjadi pada masa pembukaan kota Makkah, dimana beliau telah memaafkan kaum quraisy Makkah dengan mengatakan “Pergilah kalian semua dan kalian hari ini adalah orang-orang yang dibebaskan”. Diterangkan dalam Kitab Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam, cet. Darul Ihya' Turats al-Araby, juz 4, hal 61 dan dalam kitab Nail al-Author, juz 12, hal. 263.

وَمِمَّا احْتَجَّ بِهِ الشَّافِعِيُّ مَا وَقَعَ فِي سُنَنِ أَبِي دَاوُد بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ عَنْ جَابِرٍ أَنَّهُ سُئِلَ: هَلْ غَنِمْتُمْ يَوْمَ الْفَتْحِ شَيْئًا؟ قَالَ: لاَ وَيُجَابُ بِأَنَّ عَدَمَ الْغَنِيمَةِ لاَ يَسْتَلْزِمُ عَدَمَ الْعَنْوَةِ لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنَّ عَلَيْهِمْ بِاْلأَمْوَالِ كَمَا مَنَّ عَلَيْهِمْ بِاْلأَنْفُسِ حَيْثُ قَالَ: " اذْهَبُوا فَأَنْتُمْ الطُّلَقَاءُ ".

Rasulullah Saw. juga selalu menyuruh umatnya untuk terus menyambung tali persaudaraan antar sesama meskipun berbeda agama. Sebagaimana Rasulullah menyuruh Asma' binti Abu Bakar untuk menyambung tali silaturrohmi dengan ibunya yang kebetulan agamanya berbeda dengannya. Hal ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab al-Hibbah Bab al-Hadyah lil Musyrikin hadits nomor 2620, dan dalam Tafsir al-Qurtubi, juz 8, hal. 94 sebagai berikut:

قَالَتْ أَسْمَاءْ: ياَ رَسُوْلَ الله، إِنَّ أُمِّيْ قَدَّمَتْ عَلَيَّ رَاغِبَةً وَهِيَ مُشْرِكَةٌ أَفَأَصَلُّهَا؟ قاَلَ: (صِلِّيْ أُمُّكِ) خرجه البخاري.

Asma' bertanya kepada Nabi: Ya Rasulullah sesungguhnya ibuku mengasihiku adapun ibu saya itu adalah seorang musyrikah apakah saya harus berbuat baik kepadanya? Nabi bersabda: “Berbaktilah kepadanya/berdoalah untuknya”.
Bahkan Rasulullah Saw. juga pernah mendo'akan non muslim, dan itu sering beliau lakukan diantaranya adalah:
  • Beliau mendo’akan seorang non muslim yang bernama Daus agar mendapatkan hidayah, dan hal ini diterangkan dalam kitab Shahih Bukhari Bab al-Jihad  wa al-Sair hadits nomor 2779, dalam kitab Shahih Muslim Bab Fadlailus Shahabah hadits nomor 2524, dan dalam kitab Imam Ahmad, juz 2, hal. 353 sebagai berikut:
فَقَدْ قَدَمَ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرُ وَالدَّوْسِيُّ وَأَصْحَابُهُ فَقَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ إِنَّ دَوْسًا قَدْ كَفَرَتْ وَأَبَتْ فَادْعُ اللهَ عَلَيْهَا، فَقِيْلَ: هَلَكَتْ دَوْسٌ - ظَنَّا بِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا رَفَعَ يَدَيْهِ لِلدُّعَاءٍ عَلَيْهَا - فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَائْتِ بِهِمْ)
  • Beliau juga mendo'akan ibunya Abu Hurairah yang berbeda agama, dan ini diterangkan dalam Shahih Muslim kitab Fadlailus Shahabah Bab Min Fadlail Abi Hurairah hadits nomor 2491 sebagai berikut:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كُنْتُ أَدْعُوْ أُمِّيْ إِلَى اْلإِسْلاَمِ وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فَدَعَوْتُهَا يَوْمًا فَأَسْمَعَتْنِيْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَا أَكْرِهُ فَأَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم وَأَنَا أَبْكِيْ قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّيْ كُنْتُ أَدْعُو أُمِّيْ إِلَى اْلإِسْلَامِ فَتَأْبَى عَلَيَّ فَدَعَوْتُهَا الْيَوْمَ فَأَسْمَعَتْنِيْ فِيْكَ مَا أَكْرَهُ فَادْعُ اللهَ أَنْ يَهْدِيَ أُمِّ أَبِيْ هُرَيْرَةَ فَقَالَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم (اللَّهُمَّ اهْدِ أُمِّ أَبِيْ هُرَيْرَةَ)، فَخَرَجْتُ مُسْتَبْشِرًا بِدَعْوَةِ نَبِيِّ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَلَمَّا جِئْتُ فَصِرْتُ إِلَى الْبَابِ فَإِذًا هُوَ مُجَافٌ فَسَمِعَتْ أُمِّيْ خَشْفَ قَدَمِيْ فَقَالَتْ: مَكَانُكَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ وَسَمِعْتُ خَضْخَضَةَ الْمَاءِ قَالَ فَاغْتَسَلَتْ وَلَبِسَتْ دِرْعَهَا وَعَجَّلَتْ عَنْ خِمَارِهَا فَفَتَحَتْ الْبَابَ ثُمَّ قَالَتْ: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ قَالَ فَرَجَعْتُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْتُهُ وَأَنَا أَبْكِيْ مِنَ الْفَرَحِ
  • Beliau juga pernah mendo'akan orang-orang Yahudi yang sedang bersin, dan ini diterangkan dalam Shahih Bukhari Bab Adab hadits nomor 5870, Sunan Abi Dawud, juz 14, bab Adab hadits nomor 5033, dan dalam Imam Ahmad, juz 3, hal. 353 sebagai berikut:
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ حَكِيمِ بْنِ الدَّيْلَمِي عَنْ أَبِى بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَتِ الْيَهُودُ تَعَاطَسَ عِنْدَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم رَجَاءً أَنْ يَقُولَ لَهَا يَرْحَمُكُمُ الله فَكَانَ يَقُولُ يَهْدِيكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ

Di ceritakan dari Utsman bin Abi Syaibah dari Waqi' dari Sufyan dari Hakim bin al-Dailami dari Abi Burdah dari ayahnya dia berkata ada seorang yahudi yang bersin di samping Nabi Saw. karena dia berharap supaya Nabi berdoa untuknya Yarhamuka Alloh, maka Nabi berdoa untuknya Yahdikumulloh Wayushlikhu baalakum.
Oleh karena itu, berdoa bersama antar umat beragama atau mendo'akan non muslim merupakan sikap yang sangat mulia, dan ini sesuai dengan ketentuan syara' (diperbolehkan) karena hal ini juga mengacu pada teladan yang diberikan oleh Rasulullah.
Toleransi antar umat beragama adalah gambaran bahwa Islam selalu memandang manusia dengan pandangan hormat sesuai harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. Mendo’akan dimaksudkan untuk memohonkan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar orang yang dido’akan diberikan keselamatan dan kebaikan dalam kehidupannya, karena bagaimanapun setiap manusia menginginkan kehidupannya lebih baik dan lebih tenteram. Bahkan dalam suatu riwayat mengata-kan bahwa Imam Ibnu Abbas pernah berkata:

قَالَ اْبنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَوْ قَالَ لِيْ فِرْعَوْنُ: بَارَكَ اللهُ فِيْكَ قُلْتُ: وَفِيْكَ، وَفِرْعَوْنُ قَدْ مَاتَ. رواه البخاري (صحيح البخاري، ص: 72، رقم: 95)

Kalau saja Fir'aun mendo'akanku; semoga Allah memberkatimu. Maka saya akan mendo'akannya juga; semoga Allah memberkatimu, tapi Fir'aun sudah mati. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari kitab Shahihul Adab al-Mufrad al-Baniy Bab Kaifa Yad'u lidzimmy, hal. 72, hadits nomor 95)
Oleh karena itu, dari teladan yang diberikan oleh Rasulullah Saw., kita sebagai umatnya yang selalu mengharapkan keselamatan hidup di dunia dan akhirat, selayaknya harus terus berusaha untuk meniru perilaku-perilaku dan sikap-sikap sosial beliau, karena bagaimanapun Rasulullah adalah teladan bagi kita semua. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat al-Ahzab ayat 21 sebagai berikut:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوْ اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيْراً (سورة الأحزاب: 21)

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (Qs. al-Ahzab: 21)
Sikap toleransi atau istilah jawa menyebutnya dengan sebutan teposeliro yang mempunyai arti tepo (nepakno) seliro (awak), yaitu menempatkan diri pada lingkungan disekitarnya, ini merupakan nilai-nilai ajaran Islam yang begitu mulia, dan sikap seperti ini juga ditunjukkan oleh seorang tokoh dunia yaitu Sayyidina Umar Bin Khattab ra. terhadap Uskup Sophronius di hadapan kaum Nasrani dan kaum muslim di Baitul Maqdis Yerussalem.
Selanjutnya, di depan Gereja Kanisat al-Qiyamah (Gereja Anastasis) Uskup Sophronius menyerahkan kunci kota Yerussalem kepada Kholifah Umar Bin Khattab ra. Kemudian Sayyidina Umar meminta diantarkan ke suatu tempat untuk menunaikan sholat. Dan oleh Uskup Sophronius, beliau diantarkan ke dalam gereja. Akan tetapi, Kholifah Umar menolak penghormatan tersebut sembari mengatakan bahwa dirinya khawatir hal itu akan menjadi suatu dasar bagi kaum muslimin generasi berikutnya untuk mengubah gereja-gereja menjadi masjid. Akhirnya, Sayyidina Umar melaksanakan sholat (munfaridan) di luar atau di teras gereja tersebut. Hal ini dijelaskan dalam kitab Samahah al-Islam, hal. 34-37 sebagai berikut:

كَتَبَ لِلنَّصَارَى فِيْ بَيْتِ الْمُقَدَّسِ أَمَانًا عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَاَوْلاَدِهِمْ وَنِسَائِهِمْ وَاَمْوَالِهِمْ وَجَمِيْعِ كَنَائِسِهِمْ لاَ تُهْدَمُ وَلاَ تُسْكَنُ وَحِيْنَ جَاءَ وَقْتُ الصَّلاَةِ وَهُوَ جَالِسٌ فِيْ صُحْنِ كَنِيْسَةِ الْقِيَامَةِ خَرَجَ وَصَلَّى خَارِجَ الْكَنِيْسَةِ عَلَى الدَّرَجَةِ الَّتِى عَلَى بَابِهَا بِمُفْرَدِهِ وَقَالَ لِلْبَطْرِكْ: لَوْ صَلَّيْتُ دَاخِلَ الْكَنِيْسَةِ لَاَخْذُهَا الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ بَعْدِيْ وَقَالُوْا: هُنَا صَلَّى عُمَرُ ثُمَّ كَتَبَ كِتَابًا يُوْصَى بِهِ الْمُسْلِمِيْنَ أَلاَ يُصَلِّى أَحَدٌ مِنْهُمْ عَلَى الدَّرَجَةِ إِلاَّ وَاحِدًا وَاحِدًا غَيْرَ مُجْتَمِعِيْنَ لِلصَّلاَةِ فِيْهَا وَلاَ مُؤَذِّنِيْنَ عَلَيْهَا. اَمَّا عَهْدُهُ لَهُمْ فَقَدْ كَانَ مَثَالاً فِي السَّمَاحَةِ وَالْمُرُوْءَةِ لاَ يَطْمَعُ فِيْهِ طَامِعٌ مِنْ اَهْلِ حَضَارَةِ مِنْ حَضَارَاتِ التَّارِيْخِ كَائِنَةُ مَا كَانَتْ فَكَتَبَ لَهُمُ اْلعَهْدَ الَّذِىْ قَالَ فِيْهِ: (هَذَا مَا أَعْطَى عَبْدُ اللهِ عُمَرُ أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ أَهْلَ اَيْلِيَاءِ مِنَ اْلأَمَانِ . أَعْطَاهُمْ أَمَانًا لِأَنْفُسِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ وَكَنَائِسِهِمْ وَصَلَبَانِهِمْ سَقِيْمِهَا وَبَرِيْئِهَا وَسَائِرِ مِلَّتِهَا . اِنَّهُ لاَ تُسْكَنُ كَنَائِسُهُمْ وَلاَ تُهْدَمُ وَلاَ يُنْتَقَصُ مِنْهَا وَلاَ مِنْ خَيْرِهَا وَلاَ مِنْ صَلِيْبِهِمْ وَلاَ مِنْ شَيْئٍ مِنْ اَمْوَالِهِمْ وَلاَ يَكْرَهُوْنَ عَلَى دِيْنِهِمْ وَلاَ يُضَارُ اَحَدٌ مِنْهُمْ وَلاَ يُسْكَنُ بِاَيْلِيَاءِ مَعَهُمْ اَحَدٌ مِنَ الْيَهُوْدِ (سماحة الإسلام، ص: 37-34)

Dari kutipan cerita diatas, kita dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa begitu besar sikap toleransi (teposeliro) antar sesama meskipun berbeda agama dan keyakinannya yang diajarkan oleh Islam dan itupun dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad dan khalifah Umar Bin Khattab ra.
Dan hasil dari pertemuan kedua tokoh besar tersebut menghasilkan sebuah piagam perdamaian yang dikenal dengan “perjanjian Aelia”yang berbunyi:
Inilah perdamaian yang diberikan oleh hamba Allah ‘Umar Amirul Mukminin, kepada rakyat Aelia: dia menjamin keamanan diri, harta benda, gereja-gereja, salib-salib mereka, yang sakit maupun yang sehat, dan semua aliran agama mereka. Tidak boleh mengganggu gereja mereka baik membong-karnya, mengurangi, maupun menghilangkanya sama sekali, demikian pula tidak boleh memaksa mereka meninggalkan agama mereka, dan tidak boleh mengganggu mereka. Dan tidak boleh bagi penduduk Aelia untuk memberi tempat tinggal kepada orang Yahudi
Hal yang sama juga diterangkan dalam kitab Haekal Umar bin Khattab pada halaman 316, yang diterbitkan oleh Litera Antar Nusa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar